Liputan6.com, Madrid - Ribuan orang yang setiap hari bepergian antara ujung selatan Spanyol dan Gibraltar, wilayah seberang laut Inggris, tidak lagi harus melewati perbatasan fisik mulai Rabu (15/7/2026).
Perbatasan itu resmi dibuka saat Selasa (14/7) berganti Rabu, setelah pagar pembatas dibongkar seluruhnya. Pembukaan tersebut memungkinkan pergerakan bebas berdasarkan perjanjian bersejarah antara Uni Eropa dan Inggris yang tercapai setelah bertahun-tahun diwarnai tarik-ulur pasca-Brexit.
Advertisement
Gibraltar, wilayah berpenduduk sekitar 38.000 orang yang kedaulatannya disengketakan, berada di ujung selatan Semenanjung Iberia. Wilayah itu menempati lokasi strategis, hanya beberapa kilometer dari Maroko, di kawasan tempat Samudra Atlantik bertemu dengan Laut Mediterania.
Tak lama selepas tengah malam, warga mulai bebas melintas dalam dua arah antara La Linea de Concepcion di Spanyol dan Gibraltar. Banyak di antara mereka mengenakan kostum tim nasional sepak bola Spanyol seusai kemenangan atas Prancis pada semifinal Piala Dunia, Selasa. Pemandangan itu semakin menguatkan suasana perayaan.
"Yang terasa di sini adalah persaudaraan antara kedua masyarakat," kata Menteri Utama Gibraltar Fabian Picardo kepada stasiun penyiaran Spanyol RTVE seperti dilaporkan Associated Press.
Kesepakatan yang Terwujud Setelah Bertahun-tahun
Ketika Inggris keluar dari Uni Eropa pada 2020, hubungan Gibraltar dengan blok tersebut masih belum menemukan kejelasan.
Perundingan untuk memastikan orang dan barang tetap dapat bergerak melintasi perbatasan sebelumnya berjalan tersendat. Negosiasi panjang tersebut melahirkan kerangka kesepakatan pada tahun 2025, yang kemudian difinalisasi melalui penandatanganan perjanjian resmi pada hari Selasa sebelum pagar pembatas akhirnya diruntuhkan total.
Menteri Inggris untuk Urusan Eropa, Amerika Utara, dan Wilayah Seberang Laut Stephen Doughty mengatakan perjanjian tersebut menjamin kepentingan dan masa depan ekonomi Gibraltar dalam jangka panjang.
Perwakilan perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, juga menyambut baik kesepakatan itu.
"Dibutuhkan empat tahun perundingan yang sabar dan rumit, tetapi hasilnya dapat dilihat sendiri," tutur Sefcovic. "Ada perasaan yang sangat istimewa ketika menyaksikan sebuah pagar dibongkar."
Tanpa kesepakatan tersebut, Gibraltar berisiko menghadapi perbatasan darat yang ketat dengan pemeriksaan paspor penuh. Situasi itu dapat mengancam perekonomian wilayah tersebut, yang sangat bergantung pada sekitar 15.000 warga Spanyol yang setiap hari melintasi perbatasan untuk bekerja.
Jumlah tersebut setara dengan hampir separuh tenaga kerja Gibraltar.
Perjalanan untuk keperluan pribadi dan rekreasi dari kedua sisi perbatasan juga berpotensi terganggu.
"Warga dapat mengunjungi keluarga mereka di Spanyol atau menerima kunjungan kerabat dari Spanyol. Anak-anak juga bisa pergi menonton pertandingan sepak bola maupun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di Spanyol atau Gibraltar, tanpa lagi mengkhawatirkan antrean di perbatasan," kata Picardo dalam wawancara dengan The Associated Press.
Kesepakatan tersebut pada praktiknya membawa Gibraltar masuk ke dalam kawasan bebas perjalanan Schengen milik Uni Eropa. Pemeriksaan terhadap orang yang masuk dan keluar melalui bandara serta pelabuhan Gibraltar akan dilakukan bersama oleh petugas perbatasan Inggris dan Spanyol.
Pengaturan serupa berlaku di stasiun kereta Eurostar di London dan Paris, tempat petugas Inggris dan Prancis sama-sama memeriksa paspor penumpang.
Gibraltar diserahkan kepada Inggris pada 1713. Namun, Spanyol terus mempertahankan klaim kedaulatannya atas wilayah tersebut. Hubungan kedua negara mengenai Gibraltar pun mengalami pasang surut selama berabad-abad.
Perjanjian yang memungkinkan pembongkaran pagar perbatasan itu tidak menyelesaikan sengketa mengenai status Gibraltar.
Dalam referendum Brexit pada 2016, sebanyak 96 persen pemilih di Gibraltar—yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan julukan "The Rock"—memilih tetap menjadi bagian dari Uni Eropa.
Pelancong yang tiba di Gibraltar dari negara di luar kawasan Schengen, termasuk Inggris, harus mengikuti Sistem Keluar-Masuk Uni Eropa atau Entry-Exit System (EES). Sistem yang mulai diterapkan di Eropa pada April itu menggantikan stempel paspor dengan pencatatan data biometrik berupa foto dan sidik jari digital.
Kamera Pengenal Wajah
Setelah pagar perbatasan dibongkar, otoritas Gibraltar memasang kamera pengenal wajah waktu nyata di titik-titik masuk dan berbagai lokasi di seluruh wilayah tersebut.
Picardo mengatakan jumlah kamera pengawas atau CCTV di Gibraltar akan ditambah secara signifikan. Pemerintah juga telah meningkatkan kehadiran polisi serta menambah sumber daya bagi lembaga bea cukai dan penjaga pantai.
"Benteng fisik itu kini telah berubah menjadi benteng digital," kata Picardo.