Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, Selasa (14/7/2026), harga minyak Brent naik 9,6% dan ditutup di level US$ 83,30 per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar sejak Mei 2020. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 9,4% dan menetap di US$ 78,14 per barel.
Advertisement
"Kami memberlakukan kembali blokade Iran, yang dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau pelanggan mereka untuk masuk maupun keluar. Seluruh negara lain tetap dapat menggunakan Selat Hormuz secara terbuka dan adil," tulis Trump melalui akun media sosialnya.
Trump juga menegaskan Amerika Serikat akan tetap menjaga keamanan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, ia meminta kompensasi sebesar 20% dari seluruh nilai kargo yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Saling Balas
Keputusan Trump mengembalikan blokade terhadap Iran diambil setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan selama akhir pekan.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya kembali melancarkan serangan ke Iran pada Minggu, sehari setelah menggempur sekitar 140 sasaran pada Sabtu. Operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap sebuah kapal kontainer yang melintas di Selat Hormuz.
Sebagai respons, kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Iran melancarkan serangan ke sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Media pemerintah Iran juga mengklaim Korps Garda Revolusi telah menutup Selat Hormuz hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh militer AS.
"Pasukan AS telah ditempatkan dan siap memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga meskipun ada agresi, intimidasi, ancaman, maupun pernyataan sepihak dari Iran. Iran tidak menguasai Selat Hormuz. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," tulis CENTCOM melalui media sosialnya.
Kapal Berlayar Lewat Sisi Oman
Dalam wawancara dengan program Meet the Press NBC News, Trump juga menegaskan bahwa Selat Hormuz masih terbuka untuk aktivitas pelayaran internasional.
Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sedikitnya sembilan kapal berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Sementara itu, Joint Maritime Information Center (JMIC), koalisi angkatan laut yang dipimpin Amerika Serikat di Bahrain, menyatakan jalur pelayaran melalui perairan Oman di sisi selatan masih dapat digunakan untuk kapal yang keluar maupun masuk kawasan Teluk.
Meski demikian, JMIC mengingatkan bahwa kondisi keamanan di Selat Hormuz masih berada pada level yang sangat tinggi sehingga seluruh kapal diminta meningkatkan kewaspadaan selama melintasi kawasan tersebut.
Serangan udara sepanjang akhir pekan menjadi aksi pengeboman keempat yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran dalam sepekan terakhir sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi koridor selatan Selat Hormuz.
Perbedaan Penafsiran
Ketegangan terbaru dipicu perbedaan penafsiran antara Amerika Serikat dan Iran mengenai mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan kesepakatan damai sementara yang ditandatangani kedua negara pada 17 Juni lalu.
Sebelum konflik memanas, sekitar 20% pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Arus pelayaran sempat menurun setelah Iran mulai menyerang kapal-kapal yang melintas pada awal Maret, kemudian kembali meningkat usai Washington dan Teheran menyepakati perjanjian sementara.
Namun, eskalasi terbaru kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global.