Liputan6.com, Jakarta - Rasha Putra Permata (18) berhasil mewujudkan impian dengan diterima di Program Studi Teknik Fisik UGM lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Kondisinya yang memakai kursi roda karena spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2 tak jadi penghalang raih pendidikan terbaik.
“Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini,” tutur Rasha.
Advertisement
Perjalanan Rasha bisa berkuliah di universitas negeri tersebut penuh perjuangan. Selama mempersiapkan diri menghadapi SNBT, ia harus belajar secara mandiri karena tidak dapat mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah.
Sebagian besar lembaga bimbingan belajar belum memiliki akses yang ramah bagi pengguna kursi roda. Kondisi tersebut membuat Rasha mengumpulkan berbagai soal latihan dari teman-temannya untuk dipelajari sendiri hingga larut malam.
“Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel. Akhirnya dia mengumpulkan soal-soal dari teman-temannya, lalu belajar sendiri sampai jam satu atau dua pagi,” terang sang ibu, Triani mengutip laman resmi UGM.
Hampir setiap malam, Rasha menghabiskan waktu untuk berlatih mengerjakan soal-soal latihan. Menurutnya, materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) menjadi tantangan terbesar yang harus ia taklukkan selama masa persiapan ujian.
“Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya,” ujar Rasha mengutip laman resmi UGM.
Teknik Fisika
Rasha memilih program studi Teknik Fisika dengan penuh perhitungan matang. Ia bahkan telah mengunjungi sejumlah departemen di Fakultas Teknik, seperti Teknik Elektro, Teknik Industri, hingga akhirnya mantap memilih Teknik Fisika karena melihat peluang untuk mengembangkan kemampuan di bidang rekayasa dan komputasi.
Semasa SMA pun, ia telah mempelajari dasar-dasar robotika dan pemrograman melalui berbagai kegiatan di sekolah. Selain itu, ia juga gemar membuat komik digital di platform Webtoon dan pernah mengikuti kompetisi pengembangan gim maupun lomba komik semasa SMA.
“Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah,” kata siswa dari SMA Negeri 3 Yogyakarta itu.
Sang Ibu: Kami Sedang Membesarkan Emas
Dukungan penuh dari kedua orangtua jadi pilar penting bagi Rasha. Bagi ayah dan ibu, kondisi yang dialami Rasha tidak pernah dipandang sebagai kekurangan.
Ayah dan ibu Rasha meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi untuk bersinar. “Dari dulu saya selalu bilang kepada ayahnya, kita sedang membesarkan emas. Di mana pun emas berada, dia akan tetap bersinar. Begitu juga Rasha. Kami percaya dia akan menemukan jalannya untuk terus berkembang,” ujar Triani.
Kedua orang tua Rasha berharap UGM dapat terus memperkuat lingkungan kampus yang inklusif melalui penyediaan fasilitas yang semakin ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka meyakini aksesibilitas yang baik akan membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa disabilitas untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki.