Liputan6.com, Ramallah - Minggu (5/7/2026) itu bermula dengan hal-hal kecil yang biasa dikenang keluarga di kamp pengungsi Deir Ammar, Tepi Barat yang diduduki.
Pagi itu, Ahmad Zaid, bayi berusia tiga bulan, minum susu lebih banyak dari biasanya. Pada saat yang sama, ayahnya, Maarouf Zaid, pergi ke Ramallah untuk mengambil akta kelahirannya.
Advertisement
Keluarga itu tengah bersiap untuk perjalanan pertama Ahmad: bertamasya sehari ke Jericho bersama kakak-kakak perempuan dan para sepupunya keesokan hari.
Namun menjelang sore, momen-momen sederhana itu berubah menjadi perlombaan melawan waktu untuk menyelamatkan nyawa Ahmad.
Ibunya, Yasmine Zaid, menemukan Ahmad dalam keadaan tidak merespons. Ia segera membawanya ke pusat kesehatan terdekat. Di sana, petugas medis berusaha menyadarkannya kembali, sementara ambulans dipanggil untuk membawa Ahmad ke rumah sakit di Ramallah.
Namun perjalanan menuju rumah sakit tidak bisa dilakukan langsung. Sebuah gerbang Israel yang terkunci di jalan antara Deir Ammar dan Ramallah menghalangi akses ambulans.
Dalam situasi darurat itu, keluarga dan petugas medis menyiapkan cara lain. Ahmad akan dibawa sampai ke gerbang tersebut. Dari sana, petugas medis akan menggendongnya menyeberang dengan berjalan kaki, dengan masker oksigen tetap terpasang, lalu memindahkannya ke ambulans yang sudah menunggu hanya beberapa langkah di sisi lain.
Rencana itu gagal ketika mereka tiba di gerbang dan mendapati tentara Israel berjaga di sana. Maarouf, yang baru kembali dari Ramallah setelah mengambil akta kelahiran Ahmad, memohon kepada para tentara agar bayinya yang berada dalam kondisi kritis diizinkan lewat. Namun para tentara menolak membuka gerbang. Keluarga itu juga tidak diizinkan menyeberang dengan berjalan kaki.
"Mereka berteriak menyuruh kami mundur," kata ipar Maarouf, Fatima al-Abd Khalil, kepada Al Jazeera.
"Mereka marah dan bilang akan menembak kami. Ketika melihat anak itu, mereka sempat terdiam. Lalu mereka justru menjadi lebih kasar."
Dalam upaya terakhir menyelamatkan putranya, Maarouf menggendong Ahmad mendekati para tentara. Masker oksigen Ahmad terlepas. Maarouf kembali memohon agar mereka membiarkan bayinya lewat.
"Anak saya akan mati. Tembak saya, tapi biarkan anak saya lewat," kata Fatima, mengulang ucapan Maarouf saat itu.
Para tentara menanggapinya dengan menembakkan gas air mata dan granat kejut. Keluarga itu terpaksa mundur ke mobil mereka. Karena tidak bisa melewati gerbang, mereka harus berputar arah, melewati jalan-jalan tanah yang panjang dan berliku, untuk mencapai ambulans melalui rute lain.
Saat Ahmad akhirnya dipindahkan ke ambulans pada pukul 15.20, semuanya sudah terlambat. Ia dinyatakan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Pada hari yang sama ketika Maarouf menerima akta kelahiran Ahmad, ia kembali ke Ramallah untuk mengambil akta kematian putranya.
"Bukan yang Pertama dan Tidak Akan Jadi yang Terakhir"
Warga mengatakan gerbang militer Deir Ammar ditutup tanpa batas waktu setelah perang Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari. Penutupan itu mengisolasi sekitar 18.000 orang di tiga desa dari berbagai layanan di Ramallah. Bagi keluarga-keluarga di sana, gerbang tertutup telah menjadi bagian dari keseharian.
"Setidaknya bukalah gerbang itu ketika ada orang sakit, ketika ada orang yang hampir meninggal," kata Yasmine.
Fatima mengatakan kematian Ahmad adalah bagian dari kenyataan yang lebih luas yang dihadapi warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan Israel.
"Ini bukan yang pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir kali hal seperti ini terjadi," katanya. "Setiap hari ada pasien yang perlu pergi ke rumah sakit. Beginilah hidup kami."
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendokumentasikan 233 insiden yang berdampak pada fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, dan ambulans di seluruh Tepi Barat yang diduduki sepanjang 2025 saja. Sebagian besar insiden itu berupa penghalangan dan penolakan akses, bukan serangan langsung.
"Kapan saja, seorang tentara bisa memutuskan menutup pintu masuk (ke sebuah desa), memutus seluruh komunitas dari wilayah sekitarnya," kata Salah al-Khawaja, Direktur Departemen Tepi Barat Tengah di Komisi Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Palestina, kepada Al Jazeera.
Masalah ini tidak berhenti pada satu-dua penghalang jalan. Ia merupakan bagian dari sistem pembatasan pergerakan yang lebih luas, yang dibangun di sekitar perluasan permukiman Israel yang ilegal.
"Gerbang-gerbang itu adalah bagian dari sebuah sistem yang utuh," kata Salah.
Salah menggambarkan jalan-jalan bypass yang dibangun untuk menghubungkan permukiman Israel yang terus meluas, sementara sepenuhnya mengitari kota-kota Palestina. Dengan begitu, jalan yang membuka akses bagi para pemukim itu pula yang memutus komunitas-komunitas Palestina satu sama lain.
Menurut Salah, tujuan utama jaringan tersebut bukanlah keamanan, melainkan isolasi dan pemecahbelahan kota-kota serta desa-desa Palestina. Bagi keluarga-keluarga yang hidup di balik penghalang seperti itu, dampaknya paling terasa saat terjadi keadaan darurat medis, ketika keterlambatan mencapai fasilitas kesehatan dapat berakibat fatal.
Duka Pun Diatur
Dalam kasus Ahmad, pembatasan Israel berlanjut bahkan setelah ia meninggal. Keluarganya mengatakan otoritas militer Israel kemudian menghubungi mereka melalui telepon dan menyampaikan instruksi untuk pemakamannya. Instruksi itu mencakup larangan slogan politik, poster martir, dan ekspresi publik, disertai peringatan bahwa akan ada konsekuensi jika perintah tersebut dilanggar.
Satu-satunya bendera yang tampak dalam pemakaman itu adalah bendera yang membungkus peti Ahmad.
Ahmad adalah putra satu-satunya bagi kedua orang tuanya. Ia lahir setelah tiga anak perempuan, masing-masing berusia 11, 10, dan 3 tahun, setelah keluarga itu bertahun-tahun berusaha mendapatkan anak laki-laki.
Sebelum Ahmad lahir, ibunya, Yasmine, telah tiga kali menjalani upaya medis untuk memiliki anak.
"Anak laki-laki itu datang setelah sembilan tahun, setelah saya punya anak-anak perempuan," tutur Yasmine.
Maarouf masih sulit menerima bahwa Ahmad telah tiada.
"Kami semua seperti kehilangan akal sekarang," kata bibi Ahmad, Senyora Zaid, di samping makamnya. "Dia (Maarouf) bilang ke saya: Saya ingin pergi mengambil anak saya. Saya ingin membawanya kembali dari kubur."