Menko AHY Dorong Penggunaan Material Ramah Lingkungan di Infrastruktur Nasional

Menko AHY menekankan pentingnya material bangunan rendah emisi dalam mempercepat pembangunan infrastruktur hijau di Indonesia.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 09 Juli 2026, 22:15 WIB
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (Istimewa)

 

Liputan6.com, Jakarta - Sektor konstruksi dan material bangunan di Indonesia kini tengah menghadapi titik balik penting dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan serta mitigasi perubahan iklim.

Dalam gelaran IndoBuildTech Expo 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, fokus industri mulai bergeser secara signifikan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem membuat para pelaku industri kini memprioritaskan inovasi yang mampu menekan emisi karbon melalui penggunaan teknologi material yang ramah lingkungan. Pembangunan infrastruktur hijau menjadi agenda utama yang ditekankan oleh pemerintah dalam ajang tahunan ini.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan, setiap proyek pembangunan di masa depan harus memberikan dampak positif bagi ekonomi tanpa mengabaikan kelestarian alam.

Menurutnya, sinergi antara pembangunan fisik dan perlindungan lingkungan adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045.

"Sektor konstruksi dalam setiap pembangunan infrastruktur dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, memperbesar penggunaan material, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia," ujar AHY saat memberikan sambutan di pembukaan pameran tersebut.

 

Pilih yang Ramah Lingkungan

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Istimewa)

Lebih lanjut, AHY menyoroti, pemilihan material bangunan yang ramah lingkungan merupakan bagian krusial dari strategi jangka panjang pembangunan nasional yang berkelanjutan.

"Hal ini mendorong para produsen untuk meninggalkan metode konvensional dan beralih pada teknologi yang lebih aman bagi bumi. Salah satu langkah nyata yang terlihat di pameran ini adalah adopsi besar-besaran terhadap teknologi berbasis air atau water-based pada produk pelapis bangunan," ucap dia.

AHY mengatakan, langkah transisi ini diambil untuk menggantikan penggunaan bahan pelarut kimia yang selama ini menjadi sumber emisi senyawa organik berbahaya.

"Dengan mengusung visi penyelamatan planet, industri material berupaya membuktikan bahwa produk yang lebih hijau tetap mampu memberikan performa perlindungan maksimal pada bangunan. Teknologi ini dirancang untuk menciptakan ruang hidup yang lebih sehat dengan meminimalisir polusi udara, baik di dalam maupun luar ruangan," jelas AHY.

Selain aspek rendah emisi, efisiensi energi juga menjadi bagian dari inovasi yang dipamerkan. Pengembangan material dengan daya tahan tinggi seperti sistem lantai khusus dan pelapis proteksi cuaca ekstrem bertujuan untuk memperpanjang usia pakai bangunan, yang merupakan prinsip utama dalam mengurangi limbah konstruksi. Bahkan, pemilihan warna bangunan kini diperhitungkan untuk membantu efisiensi cahaya alami.

Warna-warna dengan tingkat kecerahan tinggi dikembangkan agar dapat memaksimalkan pantulan cahaya di dalam ruangan, sehingga mampu mengurangi ketergantungan pada energi listrik.

Melalui edukasi dan berbagai demonstrasi teknologi di lapangan, pameran ini berusaha mengubah paradigma para pengembang dan masyarakat luas. Keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah tanggung jawab kolektif.

Dengan sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah dan inovasi sektor industri, pembangunan di Indonesia diharapkan tidak hanya sekadar membangun konektivitas, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan fungsi lingkungan hidup demi generasi mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya