Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah tidak berhenti pada implementasi biodiesel B50. Setelah berhasil mendorong penggunaan campuran solar dengan 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit, pemerintah kini mulai menyiapkan langkah strategis berikutnya, yakni mencampur bensin dengan etanol (bioetanol) yang ditargetkan mulai berlaku pada 2027.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa keberhasilan program B50 akan menjadi cetak biru (blueprint) untuk pengembangan bahan bakar nabati lainnya di tanah air, termasuk bioetanol.
Advertisement
"Selain daripada itu, kami laporkan bahwa dengan keberhasilan B50, maka kita mau copy, mau contoh untuk bensin yaitu etanol. Arahan Bapak Presiden, etanol harus kita lakukan, maka mandatori akan kita jalankan pada 2027 tahap pertama sebesar 10% sampai dengan 20%. Sehingga etanol ini bisa mengikuti jejak sukses biodiesel," kata Bahlil dalam Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).
Menurut Bahlil, percepatan pengembangan etanol ini merupakan arahan langsung dari Presiden guna memperkuat ketahanan energi nasional dari hulu hingga hilir.
Ia menjelaskan, program bioetanol tersebut nantinya akan memanfaatkan berbagai komoditas pertanian dalam negeri, seperti tebu, singkong, dan jagung. Dalam pelaksanaannya, pemerintah siap melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga sektor swasta.
"Jadi, tebu, singkong, kemudian jagung itu akan dikelola bersama-sama, baik dengan Danantara, Pertamina, maupun pihak swasta yang lain," ujarnya.
Bahlil menyebut, hilirisasi etanol tidak hanya bertujuan menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga membuka ekosistem pasar baru yang menguntungkan bagi sektor pertanian nasional.
B50 Jadi Bukti Indonesia Berdaulat Energi
Bahlil menilai kesuksesan implementasi B50 menjadi modal penting bagi Indonesia untuk membuktikan kepada dunia bahwa bangsa ini mampu memproduksi energinya sendiri secara mandiri.
Sebelumnya, Indonesia masih harus mengimpor solar sekitar 3–4 juta kiloliter per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, lewat penerapan mandatori B50, ketergantungan impor produk solar tersebut resmi dihentikan sepenuhnya.
Selain berhasil memangkas angka impor, program B50 diproyeksikan mampu menyelamatkan devisa negara hingga Rp 170 triliun, mendongkrak penyerapan crude palm oil (CPO) nasional, serta menciptakan jutaan lapangan kerja baru di sektor hijau.
"B50 bukan sekadar perpaduan bahan bakar fosil dan nabati. B50 adalah perpaduan antara keberanian mengambil keputusan, kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, dan keyakinan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri memanfaatkan sumber dayanya," pungkas Bahlil.