Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menekan sentimen terhadap aset berisiko.
Pelaku pasar juga mencermati kekhawatiran Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) terhadap tekanan inflasi yang masih bertahan.
Advertisement
Pada Kamis pagi, rupiah melemah 52 poin atau 0,29% menjadi 18.066 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 18.014 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah berlangsung sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
“Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen risiko di kawasan,” ungkap Josua dikutip dari Antara.
Tekanan geopolitik meningkat setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Perkembangan tersebut meredupkan harapan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Prediksi Gerak Rupiah Hari Ini
Eskalasi konflik AS-Iran dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan yang lebih besar terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam distribusi minyak dunia sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi menekan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Serangan terbaru terjadi tidak lama setelah AS mencabut konsesi penting yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak ke pasar internasional. Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi mengetatnya pasokan minyak dalam beberapa pekan mendatang.
Harga minyak mentah kemudian naik hingga melampaui US$ 75 per barel. Kenaikan harga energi turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari Amerika Serikat, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode Juni 2026 juga menjadi perhatian pasar. Dokumen tersebut memperlihatkan kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap tekanan inflasi yang masih bertahan.
Kondisi itu berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed dan pergerakan dolar AS ke depan.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 17.975 hingga 18.125 per dolar AS pada perdagangan hari ini.