Lalu Lintas Selat Hormuz Hampir Lumpuh Usai Serangan AS ke Iran

Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.

oleh Septian DenyDiterbitkan 09 Juli 2026, 12:16 WIB
Ilustrasi. Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. (Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

 

Liputan6.com, Jakarta - Lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia.

Dikutip dari Aljazeera, Kamis (9/7/2026), data pelacakan kapal menyebut, hanya sedikit kapal berukuran besar yang melintasi Selat Hormuz. Tercatat, hanya sebuah supertanker yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan sebuah kapal kontainer berbendera Iran yang terlihat keluar dari kawasan Teluk.

Sehari sebelumnya, hanya 14 kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz ke dua arah. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) pada 16 Juni lalu.

Sebagai perbandingan, dalam tiga pekan setelah kesepakatan sementara tersebut dicapai, rata-rata terdapat sekitar 34 kapal yang melintasi selat itu setiap hari.

AS Kembali Serang Iran

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu (8/7/2026), beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz menandai berakhirnya gencatan senjata yang rapuh.

Serangan itu memicu kekhawatiran bahwa perang Iran dapat berkobar lagi. Aksi ini terjadi hanya sehari setelah militer AS menggempur sejumlah situs militer dan fasilitas pelabuhan, menyusul serangan Iran terhadap beberapa kapal dagang di lepas pantai Oman.

Dalam unggahan di media sosial pada Rabu, para pejabat militer mengatakan serangan terbaru itu ditujukan untuk lebih jauh melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Sebelum perang dimulai lewat serangan AS dan Israel pada 28 Februari, seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati jalur itu.

Media pemerintah Iran seperti dikutip Associated Press melaporkan ledakan di beberapa lokasi, termasuk Bushehr, tempat kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran berada, serta kota-kota pelabuhan di selatan, yakni Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik.

Trump memperingatkan bahwa situasinya akan jauh lebih buruk jika serangan terhadap pelayaran kembali terjadi

Setelah meninggalkan KTT NATO di Ankara, Turki, Trump mengunggah beberapa video di platform media sosial miliknya yang ia sebut memperlihatkan ledakan di Iran.

"Ini adalah pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, situasinya akan jauh lebih buruk!" tulis Trump.

 

 

Rangkaian Saling Serang

Presiden AS Donald Trump. (Dok. AP/Filip Singer)

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan bahwa rangkaian saling serang terbaru itu tidak akan berujung pada operasi militer jangka panjang.

"Apa pun yang terjadi akan berlangsung sangat cepat," kata Trump.

Namun, ia juga membuka kemungkinan bahwa militer AS akan menuntaskan operasi tersebut.

Trump kembali menyampaikan ancaman lamanya untuk menyerang infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi, serta merebut Pulau Kharg, pusat produksi minyak Iran.

Setelah tiga kapal tanker diserang pada Selasa (7/7), AS melancarkan serangan terhadap Iran. Pasukan Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah lokasi militer AS di Teluk Persia.

Iran menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara memberinya hak untuk mengatur lalu lintas di selat tersebut. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, salah satu negosiator utama dalam perundingan untuk mencapai penghentian perang secara permanen, bersikap menantang lewat unggahan di X.

"Era perundungan dan pemerasan sudah berakhir. Itu tidak akan membawa hasil. Kami tidak akan tunduk," tulisnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya