Liputan6.com, Jakarta - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Sosiologi, Universitas Cenderawasih dan Yayasan Partisipasi Muda (YPM) menyelenggarakan program Academia Politica Jayapura.
Menurut Direktur Eksekutif YPM, Neildeva Despendya Putri, program tersebut diisi dengan narasi iklim yang selama ini beredar yang kerap terasa rumit, menakutkan, dan jauh dari keseharian anak muda.
Advertisement
"Peserta mempraktikkan secara langsung penyusunan kampanye iklim digital secara berkelompok. Mulai dari memilih isu, menentukan target audiens, hingga menyusun pesan yang tepat sasaran sesuai peran masing-masing aktor," kata perempuan yang karib disapa Neil, Rabu (8/7).
Setelah workshop, Neil mengatakan program dilanjutkan dengan simulasi perumusan kebijakan publik melalui diskusi dan role play lintas peran.
"Hal ini bertujuan untuk melatih kemampuan advokasi dan kolaborasi antarsektor secara langsung."
Pada sesi materi, Gison Murib selaku peneliti muda dan Edukator Konservasi YAPPENDA hadir untuk menekankan bahwa dampak perubahan iklim sudah nyata dirasakan di Papua, dan anak muda perlu lebih dari sekadar kepedulian.
"Mereka harus memiliki kapasitas untuk memahami isu secara mendalam dan mengadvokasi kebijakan yang melindungi alam Papua bagi generasi mendatang," pesan Gison.
"Papua adalah salah satu wilayah dengan kawasan hutan hujan tropis terbesar dan terkaya di Indonesia. Wilayah ini berperan vital dalam menjaga keseimbangan iklim, sumber daya air, serta keberlangsungan hidup masyarakat adat," imbuhnya.
Namun, Gison mewanti-wanti tekanan yang berasal dari deforestasi, alih fungsi lahan, eksploitasi sumber daya alam, dan perubahan iklim terus mengancam ekosistem ini.
"Kondisi ini bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan kebijakan, kesejahteraan, dan masa depan," tegas dia.
Pembicara berikutnya, Dr. Estiko Tri Wiradyo yang menjabat sebagai Kepala Bidang Perencanaan Kehutanan DLHK Provinsi Papua, menyampaikan bagaimana kebijakan kehutanan dirancang, tantangan implementasinya di lapangan, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dan generasi muda sebagai agen perubahan.
Workshop
Sebagai informasi, acara diskursus mengangkat tema "Tidak Ada Hutan, Tidak Ada Air: Kenapa Suara Orang Muda Penting". Program ini bukan sekadar ruang berkumpul dan bersuara.
Selama dua hari, 5–6 Juni 2026, peserta yang terdiri atas pelajar dan mahasiswa lintas institusi di Jayapura mengikuti dua sesi workshop terstruktur: Climate Change 101 dan Climate Communications.
Kedua workshop itu menjadi program pendidikan kebijakan iklim yang dirancang untuk membekali generasi muda Papua dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman langsung dalam merumuskan serta mengadvokasi kebijakan publik berbasis isu lingkungan.
Diketahui, pada sesi Climate Change 101, peserta mendapatkan materi mendalam mengenai kondisi ekosistem Papua, termasuk ancaman deforestasi, krisis air bersih, alih fungsi lahan, dan dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat adat.