Liputan6.com, Jakarta - Perantau asal Semarang, Jawa Tengah,Galuh (28) menjadi salah satu pencari kerja lewat Job Fair Tahap I: Jakarta Selatan Career Fest and Bazaar 2026 di Gedung Nyi Ageng Serang, Setiabudi, Jakarta Selatan (Jaksel).
Memiliki fisik yang nampak sempurna, namun rupanya Galuh merupakan penyandang disabilitas tuli. Kekurangan tersebut tidak menyurutkan semangat Galuh mencari pekerjaan.
Advertisement
Galuh yang kini hidup kos di Jakarta Pusat menyebut saat ini mencari pekerjaan, sebelum masa kontrak kerjanya habis.
“Saya sedang mencari kerja di job fair, karena kontrak saya hampir habis. Jadi sebelum kontrak habis, saya berusaha untuk mencari kerja,” ujar Galuh di Gedung Nyi Ageng Serang, Rabu (8/7/2026).
Dia bercerita, pada job fair kali ini terdapat 3 perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan untuk penyandang disabilitas.
“Di sini ada yang menerima disabilitas, tapi hanya 3 perusahaan,” ucap Galuh.
Dia lalu mengatakan pernah juga melamar pekerjaan ada di tempat lainnya, namun juga belum diterima.
“Saya juga pernah melamar kerja di satu tempat sudah tes oke, sudah wawancara oke, tapi lanjut ke tes berikutnya setelah wawancara, itu dinyatakan gagal,” cerita Galuh.
Dia lalu mengaku sudah menaruh lamaran pekerjaan hingga di 200 tempat, namun juga belum ada satu pun yang menerima.
“Saya sudah kira-kira 200 lebih tempat lamaran kerja yang saya coba. Saya merasa capek karena saya berusaha, tapi belum inklusif terkait perusahaan yang menerima disabilitas bekerja di sana,” cerita Galuh.
Kendala Melamar Kerja
Menurut Galuh, dirinya sudah bekerja di sebuah perusahaan sebagai Desain Grafis. Dia mengaku memang ada kendala karena rekan kerjanya tidak bisa bahasa isyarat.
“Sebelumnya, saya kerja di tempat kerja pasti ada hambatan, yang pertama, itu hambatan komunikasi Karena teman-teman saya sulit memahami bahasa isyarat,” kata dia.
“Tapi lama-kelamaan, ada satu orang yang bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Lalu yang kedua, ada juga yang miskomunikasi, untungnya terbantu dari grup. Nah sekarang, saya juga kerja mencari di bagian desain grafis,” sambung Galuh.
Tantangan dalam Melamar Pekerjaan
Galuh menceritakan, berdasarkan pengalamannya, pernah mencoba melamar pekerjaan via website, namun langsung ditolak.
“Pernah seperti di web, ada tulisan yang langsung menolak disabilitas. Respons saya pasti ngerasa kecewa, capek, dan saya nangis ketika itu,” kata dia.
Selain itu, Galuh juga mengaku mengalami kendala umur. Karena, kata dia, ada batas umur yang ditetapkan oleh perusahaan.
Ada pula, kata Galuh, tantangan pada jenjang pendidikan.
“Kadang ada kayak saingan usia gitu sama yang lebih muda. Terus ada kayak dibatasi pendidikan, karena kan banyak sekali S1, S3 yang sudah melamar tapi ditolak karena tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan,” papar dia.
Harapan ke Depan
Di tengah kondisinya, Galuh pun tetap menaruh harap. Dia ingin perusahaan-perusahaan bisa membuka lowongan pekerjaan tak berbatas umur dan untuk penyandang disabilitas. Pasalnya, meski memiliki keterbatasan, penyandang disabilitas tetap bisa berkontribusi dalam memajukan perusahaan.
“Semoga perusahaan yang akan membuka untuk karyawan bisa sadar disabilitas juga bisa bekerja, bisa berusaha,” tutup dia.