Liputan6.com, Jakarta - Reporter investigasi The New York Times, Jodi Kantor, berupaya mengasah jiwa aspirasi profesional muda terkait karier. Ia menilai, dalam setiap pekerjaan yang dijalankan oleh seseorang sebaiknya melibatkan keterampilan dan kebutuhan terutama dari lingkungan mereka.
“Dunia kita menyampaikan pesan yang sangat buruk sekarang kepada kaum muda. Yakni kamu tidak dibutuhkan," ujar Kantor.
Advertisement
“Menurut saya, itu salah. Siapapun yang pernah bekerja pasti tahu bahwa kita bergantung kepada bakat dari generasi selanjutnya," ia menambahkan.
Dalam buku terbarunya, “How to Start: Discovering Your Life’s Work,” Kantor terinspirasi oleh percakapannya dengan mahasiswa di Columbia University pada 2025. Saat itu dia sedang bersiap untuk menyampaikan pidato wisuda sarjana.
"Mahasiswa di sana menanyakan pertanyaan terbaik yang pernah saya dengar, yakni, bagaimana cara kita mencari pekerjaan seumur hidup di lingkungan yang seperti ini?,"ujar pemenang penghargaan Pulitzer.
Mencari jawabannya, Kantor mengingat kembali pengalaman sebagai reporter. Ia bertanya, "Siapa orang yang sukses dan bahagia?".
Orang-orang yang muncul di pikiran Jodi Kantor, yakni psikiater anak, fasilitator konflik, penulis buku resep, memiliki persamaan, yaitu, pekerjaan mereka yang melibatkan keterampilan dan kebutuhan.
Keterampilan dan Kebutuhan Jadi Pertimbangan
Menurut definisi Kantor, keterampilan adalah gabungan antara keahlian dan kecakapan. Dia berkomentar, keahlian menuntun tangan ahli bedah untuk memperbaiki tubuh korban kecelakaan. Itu juga cara penulis, komposer, dan sutradara menangkap perhatian audiens selama berjam-jam.
"Itupun alasan makanan yang dimasak di restoran oleh ahli masak rasanya sangat nikmat,” tulis Kantor di buku “How to Start”.
Kantor menilai, keterampilan jadi jurus jitu untuk pekerja di era (Artificial Intelligence) AI agar tidak dianggap mudah digantikan. Ini penting, karena beberapa pekerjaan terancam semenjak AI berkembang.
Pengaruh AI terhadap Lapangan Pekerjaan
Namun, Kantor berpendapat, AI tidak bisa menggantikan manusia. Dia menyampaikan, bagaimana ringkasan AI terasa “kosong” dibanding tulisan manusia karena tidak ada suara dan kecerdasan sang penulis.
Selebihnya, orang sukses selalu mencari kebutuhan. Kantor menerangkan, mereka mencari masalah di komunitas atau bidangnya dan menggunakan keterampilan mereka untuk menyelesaikannya. Kantor menuturkan, cara terbaik untuk mengidentifikasi masalah adalah dengan observasi independen.
Saat menulis buku, Kantor mempertimbangkan era AI. Dia mengakui, pengaruh AI terhadap lapangan pekerjaan adalah kekhawatiran terbesar profesional muda.
Lantaran, persentase pekerja yang mencantumkan kehilangan pekerjaan karena AI sebagai kekhawatiran terbesar tempat kerja meningkat. Angka 28% pada 2024 meningkat pada 2026 ke 40%. Data tersebut didapat dari survei firma konsultan Mercer yang dilakukan Februari lalu kepada 12.000 orang di seluruh dunia.
Dunia Kerja Diliputi Ketidakpastian
Sedangkan, laporan Gallup yang dipublikasikan pada April lalu menunjukkan, hampir separuh (48%) dari pekerja Gen Z percaya, risiko AI lebih tinggi dari manfaatnya.
Meskipun begitu, Kantor menyarankan agar tidak membuat keputusan karier penting berdasarkan ketakutan akan teknologi baru.
“Kita tidak tahu bagaimana kondisi tempat kerja dalam lima atau 10 tahun ke depan. Terdapat terlalu banyak prediksi, dan sebenarnya semua masih tidak pasti,” ujarnya.
Mencari pekerjaan untuk seumur hidup bukan berarti mengabaikan logika dan hanya mengikuti passion. Kantor mengutarakan, pekerja muda harus fokus pada cara untuk “menyelaraskan antara minat dan kebutuhan di dunia.”