Liputan6.com, Jakarta - Arkeolog di Mesir menemukan sebuah kota kuno peninggalan era Bizantium yang terpelihara dengan baik di wilayah gurun bagian barat negara tersebut.
Dikutip dari The Guardian, Senin (6/7/2026), permukiman yang berasal dari abad ke-4 Masehi itu mencakup area hunian dan bangunan keagamaan, termasuk gereja bergaya basilika di kawasan oasis Dakhla. Di lokasi penggalian, tim juga menemukan koin, pecahan tembikar, serta berbagai peralatan yang diduga digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Di tempat terpisah, 18 makam kuno juga ditemukan di kawasan Marina el-Alamein, dekat Alexandria. Temuan tersebut meliputi makam yang dipahat pada batu serta makam dari batu kapur, disertai artefak seperti tembikar dan sebuah sarkofagus dari granit.
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyebut penemuan di Dakhla ini membuka gambaran yang lebih jelas mengenai kehidupan sehari-hari, perkembangan kota, serta aktivitas ekonomi pada masa Mesir berada di bawah Kekaisaran Bizantium.
Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Purbakala Mesir, Hisham el-Leithy, menjelaskan bahwa tata ruang permukiman menunjukkan jaringan jalan yang tersusun rapi, dengan jalur utara–selatan yang berpotongan dengan jalan timur–barat, membentuk ruang-ruang terbuka yang berfungsi sebagai area publik.
Sementara itu, Mahmoud Massoud yang memimpin misi penggalian mengatakan bahwa di bagian utama situs berdiri sebuah basilika dari pertengahan abad ke-4 yang menghadap langsung ke jalan utama. Di sekitar area tersebut juga ditemukan sisa dua menara pengawas yang diduga digunakan untuk menjaga kawasan pinggiran permukiman.
Oasis Dakhla yang berada di Provinsi New Valley, Mesir bagian barat, saat ini masuk dalam daftar tentatif UNESCO dan tengah dipertimbangkan untuk menjadi situs Warisan Dunia.
Massoud menambahkan, di kawasan itu juga ditemukan bangunan dengan struktur pertahanan yang kuat, ditandai dinding tebal, serta rumah-rumah dengan ruang penerima tamu dan atap berkubah.
Salah satu temuan menarik adalah “rumah Tisous”, seorang diakon gereja yang diperkirakan hidup pada paruh kedua abad ke-4. Para peneliti menduga bangunan tersebut awalnya digunakan sebagai rumah ibadah sebelum basilika utama kota berdiri.
Selain itu, arkeolog juga menemukan tungku roti, dapur, alat penggiling, serta koin perunggu yang menampilkan potret kaisar Bizantium, prasasti Latin, dan simbol-simbol Kristen.
Koin Emas Ditemukan
Sejumlah koin emas yang juga ditemukan diketahui berasal dari masa pemerintahan Kaisar Romawi Constantius II yang berkuasa pada 337–361 M. Kepala Departemen Purbakala Islam, Koptik, dan Yahudi, Diaa Zahran, mengatakan sekitar 200 pecahan tembikar juga ditemukan di lokasi tersebut. Pecahan ini dikenal sebagai ostraka, yakni media tulis pada masa itu.
Tulisan pada ostraka tersebut berisi catatan transaksi perdagangan, surat-menyurat, hingga berbagai catatan aktivitas harian masyarakat setempat.
Selain temuan di Dakhla, penggalian di situs Marina el-Alamein juga mengungkap deretan makam kuno yang berjarak sekitar 100 kilometer di sebelah barat kota pesisir Alexandria.
Temuan di lokasi itu mencakup 11 makam batu dengan kedalaman rata-rata delapan meter serta tujuh makam di permukaan yang dibangun dari batu kapur. Dengan penemuan terbaru ini, jumlah makam yang teridentifikasi di kawasan tersebut kini mencapai 48.
Di area yang sama, tim arkeolog juga menemukan berbagai artefak seperti bejana tembikar, amphora, lampu minyak, piring, altar, hingga wadah batu kapur.
Kepala Misi Arkeologi, Eman Abdel-Khaliq, menyebutkan bahwa sebuah sarkofagus granit sepanjang 2,5 meter juga ditemukan, dengan sisa-sisa kerangka manusia yang kini masih dalam proses penelitian.
Di dekatnya, turut ditemukan bagian patung sphinx dari plester. Ia juga menjelaskan bahwa empat keping emas ditemukan di dalam mulut beberapa jenazah, sebuah praktik yang dikenal sebagai “the golden tongue (lidah emas)” yang berkaitan dengan tradisi kepercayaan pemakaman pada masa itu.
Situs Marina el-Alamein sendiri berada di dekat kota Alamein di pesisir utara Mesir. Lokasi ini pertama kali mulai digali pada 1986 dan diduga merupakan kota pelabuhan kuno Greco-Romawi bernama Leukaspis di kawasan Mediterania, yang berkembang sejak abad ke-2 hingga abad ke-4 Masehi.