Pemkot Bandung Bangun 220 Titik Pengolahan Sampah Berbasis Kewilayahan

Pemerintah Kota Bandung menyiapkan 220 titik pengolahan sampah berbasis kewilayahan untuk mengurangi timbulan sampah.

oleh Nurul HudaDiterbitkan 07 Juli 2026, 10:30 WIB
Warga memilah sampah di fasilitas pengolahan sampah berbasis kewilayahan di Kota Bandung.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Provinsi Jawa Barat (Jabar) menyiapkan 220 titik pengolahan sampah berbasis kewilayahan sebagai langkah taktis menekan produksi sampah hingga 250 ton setiap harinya.

Menurut Ketua Tim Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung Syahriani, program tersebut menjadi bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah dari pola kumpul, angkut, buang menjadi pengolahan di Tingkat sumber.

"Pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah bukan sekedar menambah infrastruktur, tetapi membngun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Harapannya, setiap wilayah mampu megolah Sebagian besar sapahnya sendiri sehingga hanya resdiu yang sikirim ke TPA," ujar Syahriani di Bandung, melansir Antara, Selasa (7/7/2026).

Dia mengatakan, Pemkot Bandung kini sedangmemetakan lokasi pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah di berbagai wilayah agar masyarakat dapat mengolah sampah leih dekat dengan sumbernya.

Menurut Syahriani, pembangunan fasilitas tersebut turut didukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat yang menyediakan teknologi refuse derived fuel (RDF) yang Tengah dalam fase uji coba.

 

Target Pengurangan Sampah hingga 250 Ton per Hari

Syahriani menegaskan, pembangunan fasilitas tersebut tidak hanya berpusat pada peenambahan infrastruktur, melainkan juga mewujudkan ekosistem tata Kelola sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

"Agar sampah di Kota Bandung harus di selesaikan sedekat mungkin dengan sumberny melalui pengelolaan di Tingkat rumah tangga dan kewilayahan," ucap dia.

Menurut Syahriani, melalui penambahan fasilitas tersebut, Pemkot Bandung menargetkan pengurangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton perhari, sehingga dapat memperpanjang masa pemakaian TPA Sarimukti sekaligus menekan risiko akumulasi sampah.

Dia menyampaikan, untuk mencapai target itu, DLH menerapkan pola pengelolaan sesuai karakteristik sampah yakni sampah organik diolah menjadi kompos.

Atau melalui teknologipengolahan organik, sampah anorgabik bernilai ekonomi didaur ulang melalui bank sampah, sedangkan sampah anorganik bernilai rendah diolah menjadi bahan bakar alternatif menggunakam teknologi RDF.

"Kami menargetkan penguraangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton per hari, Namun, keberhasian target ini tidak hanya bergantung pada teknologi seperti RDF, melainkan juga perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumber," tutup Syahriani.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya