China Uji Coba Rudal Balistik

China menyebut aktivitas itu sebagai bagian dari latihan rutin tahunan dan tidak menyasar negara mana pun.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 06 Juli 2026, 15:17 WIB
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Liputan6.com, Beijing - Angkatan Laut China pada Senin (6/7/2026) melakukan uji coba rudal balistik jarak jauh dari salah satu kapal selam bertenaga nuklirnya di Pasifik Selatan. Langkah yang jarang terjadi itu memicu protes dan kekhawatiran dari negara-negara di kawasan.

Menurut kantor berita resmi Xinhua, rudal tersebut diluncurkan pada pukul 12.01 dan membawa hulu ledak tiruan. China terakhir kali melakukan uji coba rudal di Pasifik dua tahun lalu, ketika menembakkan rudal balistik antarbenua dengan hulu ledak tiruan. Peluncuran di perairan internasional saat itu merupakan yang pertama dalam beberapa dekade, sejak 1980.

Dalam pernyataan singkat Xinhua yang diunggah ulang Kementerian Pertahanan China, peluncuran itu disebut sebagai bagian dari latihan rutin tahunan, sesuai dengan hukum dan praktik internasional, serta tidak ditujukan kepada negara atau target mana pun.

Uji coba pada 2024 itu mirip dengan uji coba yang dilakukan Amerika Serikat terhadap armada rudal balistiknya sendiri. Saat itu, para pakar melihatnya sebagai penegasan atas posisi China sebagai kekuatan besar yang terus berkembang.

Uji coba rudal China itu menuai kritik dari Australia, Jepang, dan Selandia Baru.

Pemerintah Selandia Baru mengatakan telah menerima pemberitahuan mengenai rencana peluncuran itu beberapa jam sebelumnya. Wellington juga mencatat bahwa rudal tersebut ditembakkan ke Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan.

Zona bebas nuklir itu dibentuk melalui Traktat Rarotonga 1986, yang melarang senjata nuklir di seluruh kawasan tersebut. Pada 1987, China meratifikasi protokol yang berisi komitmen untuk tidak menguji senjata nuklir di dalam zona itu ataupun mengancam akan menggunakannya terhadap para penandatangan yang memiliki wilayah di kawasan tersebut.

"Tampaknya, meskipun kami sudah lama menyampaikan kekhawatiran atas aktivitas semacam ini, China tetap melakukan uji coba itu hanya beberapa jam setelah memberi tahu kami," kata Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters dalam sebuah pernyataan kepada The Associated Press.

Uji coba itu berlangsung pada hari yang sama ketika Australia dan Fiji menandatangani perjanjian pertahanan bersama baru yang ditujukan untuk mengimbangi pengaruh China di Pasifik.

“Australia telah menyampaikan dengan jelas kepada China bahwa kami memandang hal ini sebagai tindakan yang mengganggu stabilitas kawasan,” kata Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong kepada wartawan di Fiji, menanggapi uji coba tersebut.

Kementerian Pertahanan Jepang dalam pernyataannya menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya aktivitas militer China. Tokyo juga meminta Beijing untuk "mempertimbangkan kembali" uji coba rudalnya agar proyektil tidak melintas di atas Jepang atau menimbulkan risiko keamanan lainnya.

China mempertahankan kebijakan untuk tidak menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata nuklir. Namun, Beijing juga aktif mengembangkan teknologi dan persenjataan nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memodernisasi Tentara Pembebasan Rakyat.

Menurut Nuclear Threat Initiative, lembaga pemikir yang berbasis di Washington, China memiliki armada yang terdiri atas enam kapal selam rudal balistik dan 59 kapal selam serang bertenaga nuklir.

Dalam laporan terbaru kepada Kongres mengenai kemampuan militer China, yang dirilis pada akhir 2025, Pentagon menyebut China diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir pada 2024. Pentagon juga menyatakan Tentara Pembebasan Rakyat masih berada di jalur untuk memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada 2030.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya