Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, bank-bank sentral di berbagai negara terus menambah cadangan emas sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi global. Hingga Mei, total pembelian emas oleh bank sentral global mencapai 41 ton.
"Bank Sentral Global telah membeli sekitar 41 ton emas batangan. Ini menunjukkan bahwa emas masih menjadi aset yang dipilih untuk memperkuat cadangan devisa," ujar Ibrahim di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Advertisement
Ia merinci, China menjadi salah satu negara yang aktif menambah kepemilikan emas dengan pembelian sekitar 10 ton hingga Mei, sehingga total cadangannya mencapai 2.331 ton. Sementara itu, Uzbekistan membeli 9 ton sehingga total kepemilikannya menjadi 33 ton, sedangkan Kazakhstan menambah 7 ton menjadi 361 ton.
Menurut Ibrahim, sejumlah negara lain juga memperkuat cadangan emasnya. Singapura membeli 4 ton sehingga total kepemilikannya mencapai 197 ton. Adapun Republik Ceko mencatat cadangan emas sebesar 22 ton, sementara Yordania menambah sekitar 1 ton.
Ia menilai pelemahan harga emas justru dimanfaatkan bank-bank sentral sebagai momentum untuk mengakumulasi logam mulia.
"Saat harga emas terkoreksi, bank-bank sentral melihatnya sebagai kesempatan untuk membeli. Mereka memperkirakan harga emas masih berpotensi naik seiring membaiknya kondisi geopolitik, turunnya harga minyak, dan kemungkinan bank-bank sentral mulai menurunkan suku bunga,” kata Ibrahim.
Dilansir dari Kitco.com, permintaan emas dari bank sentral global kembali menguat pada Mei. Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC), cadangan emas resmi bank sentral bertambah bersih 41 ton, menjadi pembelian tertinggi kedua sepanjang 2026 setelah Februari.
Senior Research Lead APAC WGC, Marissa Salim, mengatakan pembelian masih didominasi oleh negara-negara yang sebelumnya aktif mengakumulasi emas.
Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 18 ton, disusul China 10 ton, Uzbekistan 9 ton, Kazakhstan 7 ton, dan Singapura 4 ton. Di sisi lain, Rusia menjual 6 ton emas, sedangkan Turki melepas 3 ton.
“Singapura kembali masuk dalam daftar pembeli dengan pembelian bersih 4 ton. Ini merupakan pembelian bersih bulanan pertama sejak September 2025,” kata Salim.
Minat Bank Sentral
Secara kumulatif sepanjang tahun, Polandia memimpin pembelian emas dengan 64 ton, diikuti Uzbekistan 33 ton, China 25 ton, dan Kazakhstan 20 ton.
Meski harga emas sempat terkoreksi akibat konflik Iran, WGC menilai minat bank sentral terhadap logam mulia tetap tinggi. Hasil Central Bank Gold Reserves Survey 2026 menunjukkan 89% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan, sementara 45% berencana menambah cadangan emas institusi mereka.
Hingga Mei, cadangan emas China mencapai 2.331 ton atau sekitar 9% dari total cadangan devisanya. Polandia memiliki 614 ton dan semakin dekat dengan target 700 ton, sedangkan Kazakhstan menguasai 361 ton dan Singapura 197 ton.
WGC juga mencatat Bank of Korea tengah menyiapkan investasi pada ETF berbasis emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa. Sementara itu, beberapa bank sentral di Amerika Latin mulai meningkatkan kepemilikan emas, dipimpin Chile dengan pembelian sekitar 8 ton sepanjang tahun ini.
Harga Emas Dunia Akhiri Tren Penurunan Empat Pekan
Sebelumnya, harga emas dunia bersiap mencatat kenaikan mingguan pertama dalam satu bulan setelah investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Sentimen tersebut muncul menyusul rilis data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pasar.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (4/7/2026), harga emas spot melonjak 1,4% menjadi US$ 4.182,28 per ons. Dengan capaian tersebut, logam mulia diperkirakan membukukan kenaikan sekitar 2,3% sepanjang pekan, sekaligus mengakhiri tren penurunan yang berlangsung selama empat pekan berturut-turut.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman terdekat naik sekitar 1,5% pada perdagangan intraday.
Sepanjang 2026, harga emas dunia berada di bawah tekanan. Kenaikan inflasi, menguatnya dolar AS, serta sikap agresif sejumlah bank sentral setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat minat investor terhadap aset safe haven berkurang.
Akibat tekanan tersebut, emas mencatat kinerja kuartalan terburuk dalam 13 tahun pada periode April hingga Juni. Hingga kini, harga emas masih diperdagangkan sekitar 22% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh lebih dari US$ 5.300 per ons pada Januari lalu.
Ruang The Fed Menaikkan Suku Bunga
Pemulihan harga emas pekan ini dipicu oleh laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Kamis waktu setempat. Data nonfarm payrolls menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan revisi data Mei yang mencapai 129.000 pekerjaan maupun proyeksi ekonom yang dihimpun Dow Jones sebesar 115.000 pekerjaan.
Laporan itu membuat pelaku pasar menilai ruang bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga semakin terbatas.
Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang sebesar 53,5% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan September, setelah mempertahankan suku bunga pada Juli.
Angka tersebut turun dibandingkan sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Saat itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada September masih berada di kisaran 65%.
Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga lebih menarik ketika suku bunga diperkirakan tidak lagi naik agresif.
Harga Logam Lainnya juga Naik
Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga logam mulia lainnya juga menguat pada perdagangan Jumat.
Harga perak spot melonjak 2,9% menjadi US$ 62,77 per ons dan berpeluang mencatat kenaikan mingguan sekitar 6,7%. Sementara itu, kontrak berjangka perak untuk pengiriman Agustus naik sekitar 3,5%.
Di sisi lain, harga platinum menguat sekitar 2,8% menjadi US$ 1.660,10 per ons, sedangkan palladium naik sekitar 1% ke level US$ 1.280,09 per ons.
Dalam riset yang diterbitkan pada Jumat, analis OCBC menyatakan mulai lebih optimistis terhadap prospek harga emas setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.
"Data nonfarm payrolls yang lebih lemah dari perkiraan membantu mengurangi risiko sikap agresif (hawkish) The Fed. Dalam jangka pendek, kami mengubah pandangan dari berhati-hati menjadi optimistis secara terukur. Harga emas berpeluang melanjutkan pemulihan apabila data ekonomi Amerika Serikat berikutnya terus menekan imbal hasil riil dan dolar AS," tulis analis OCBC.
Meski demikian, OCBC mengingatkan investor agar tidak terlalu cepat bereuforia. Menurut mereka, tingkat pengangguran yang masih stabil, sikap The Fed yang tetap cenderung hawkish, serta risiko inflasi yang belum mereda membuat investor tetap perlu berhati-hati.
"Dengan tingkat pengangguran yang masih stabil, pernyataan pejabat The Fed yang tetap bernada hawkish, serta risiko inflasi yang masih tinggi, investor tetap perlu bersikap hati-hati dalam jangka pendek," lanjut OCBC.