Liputan6.com, Jakarta - Citigroup Inc prediksi harga minyak Brent turun hingga US$ 60 per barel pada akhir tahun. Koreksi harga minyak ini seiring gangguan di Selat Hormuz mereda.
“Fundamental dengan cepat kembali menguat,” uja Analis Citigroup Inc termasuk Francesco Martoccia dalam sebuah catatan, dikutip dari Yahoo Finance, ditulis Minggu (5/7/2026).
Advertisement
Ia menuturkan, sejumlah faktor yang mendorong harga minyak turun. Salah satunya, arus pengiriman kembali normal. “Pembeli dari China tetap absen, pasar minyak melemah tajam, dan persediaan berkurang jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan,” kata dia.
Adapun pasar energi global dengan cepat kembali normal karena dimulainya kembali arus melalui Selat Hormuz. Hal itu meningkatkan pasokan jangka pendek, menambah persediaan minyak bagi pengolah setelah mendapatkan alternatif.
Hasilnya adalah penurunan harga yang cepat. Harga Brent yang termasuk patokan global turun 30% pada kuartal kedua, dan menghapus semua keuntungan yang terlihat selama konflik.
Analis menuturkan, periode awal, harga minyak diperkirakan bergejolak karena rute pengiriman kembali normal. Selain itu, pasar asuransi juga menyesuaikan diri, dan hambatan logistik yang tersisa mulai teratasi.
“Kembalinya pola navigasi terorganisir, dan meningkatnya volume lalu lintas menunjukkan operator komersial semakin memandang lingkungan risiko sebagai sesuatu yang dapat dikelola daripada sesuatu yang menghambat,” ujar dia.
Di antara bank-bank lain, Goldman Sachs Group Inc. mengatakan, pasar minyak global akan kembali mengalami kelebihan pasokan seiring dengan meredanya dampak perang Iran dan pulihnya lalu lintas melalui Hormuz. Morgan Stanley memangkas perkiraan minyaknya dua kali dalam beberapa minggu terakhir, menandai risiko kelebihan pasokan.
Prediksi Citi
Harga Brent berada sedikit di atas US$ 72 per barel pada Jumat, dan terakhir diperdagangkan di bawah US$ 60 pada Januari.
"Kami terus merekomendasikan untuk menjual setiap kenaikan harga di musim panas dan memperkirakan Brent akan mencapai US$ 60 hingga US$ 65 per barel pada pergantian tahun," kata analis Citi.
Selat Hormuz, yang menghubungkan produsen Teluk Persia ke pasar global, mengalami blokade ganda selama perang AS-Iran, yang meletus pada akhir Februari. Hal ini menyebabkan kekacauan di pasar energi. Teheran dan Washington telah menyepakati nota kesepahaman, atau MOU, untuk menghentikan permusuhan, dengan kedua pihak berupaya mencapai kesepakatan permanen.
"Kami memperkirakan nota kesepahaman ini akan bertahan dan berubah menjadi kesepakatan dalam beberapa bulan mendatang karena insentif untuk meredakan ketegangan lebih besar daripada alternatifnya bagi AS, Iran, dan sebagian besar wilayah Timur Tengah," kata Citi, merujuk pada Timur Tengah.