Ekspor Minyak Arab Saudi Meningkat Usai Pembukaan Selat Hormuz

Analis menilai, arus minyak mentah dari Arab Saudi kembali pulih setelah Selat Hormuz dibuka.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Juli 2026, 13:12 WIB
Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak atau ekspor melalui Selat Hormuz sejak Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani perjanjian untuk membuka kembali jalur laut tersebut bulan lalu.

Mengutip CNBC, Jumat, (3/7/2026), Arab Saudi telah mengirimkan sekitar 34 juta barel minyak melalui Selat Hormuz sejak 17 Juni, menurut data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler. Ekspor Riyadh selama dua minggu terakhir lebih dari dua kali lipat dari 15 juta barel yang dikirim melalui selat tersebut dari 9 Maret-17 Juni 2026.

"Arus minyak mentah Saudi di dalam teluk kembali pulih setelah berbulan-bulan mengalami pengalihan rute akibat konflik,” ujar Analis Kpler, Jashan Prema dalam catatan kepada kliennya pada Kamis, 2 Juli 2026.

Sekitar 24 juta barel minyak Arab Saudi yang dikirim sejak 17 Juni dimuat selama atau sebelum perang Amerika Serikat (AS)-iran, menurut Kpler. Ini menunjukkan Arab Saudi sedang membersihkan tumpukan kapal tanker minyak yang tidak dapat keluar dari teluk selama konflik itu.

Dalam laporan itu juga menyebutkan, sekitar 17 juta barel minyak Arab Saudi yang dimuat sebelum perang masih berada di teluk.

Riyadh sebagian besar menghentikan pengiriman dari terminal ekspor teluk di Ras Tanura dan Juaymah pada 9 Maret setelah lalu lintas kapal tanker melalui Hormuz anjlok akibat serangan Iran. Arab Saudi mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui pipa timur-barat ke terminal Laut Merah di Yanbu.

 

Arab Saudi Mulai Kembali Logistik Ekspor

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Prema menuturkan, Saudi kini memulai kembali logistik ekspor di teluk dan bukan hanya membersihkan tumpukan minyak pra-perang.  Ia menuturkan, 11 kapal tanker super yang menuju kerajaan memasuki teluk antara 23 Juni dan 1 Juli.

"Delapan dari kapal tanker tersebut telah memuat minyak di terminal Saudi dan lima di antaranya telah keluar dari Hormuz,” ujar dia.

Kapal-kapal terus melintasi Hormuz setelah pecahnya konflik antara AS dan Iran pekan lalu. Teheran menyerang dua kapal komersial dan AS membalas dengan serangan terhadap Iran pada akhir pekan. Lalu lintas kapal tanker turun menjadi delapan kapal pada Minggu dan kemudian naik menjadi 16 pada Rabu, menurut data Kpler.

Sekitar 8,5 juta barel minyak mentah melewati Hormuz pada Rabu, menurut perusahaan intelijen maritim Windward. Hampir 15 juta barel per hari melewati selat tersebut pada 2025, menurut Badan Informasi Energi AS.

Harga Minyak Dunia

Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Sebelumnya, harga minyak dunia turun pada Kamis, 2 Juli 2026. Koreksi harga minyak seiring tanda-tanda kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meredakan kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan di Timur Tengah. Meskipun permintaan bahan bakar AS yang lebih kuat dari perkiraan membantu membatasi kerugian lebih lanjut.

Mengutip Anadolu Agency, Jumat, (3/7/2026), harga minyak Brent diperdagangkan pada US$ 70,79 per barel pada pukul 05.53 GMT. Harga minyak Brent turun sekitar 1,1% dari penutupan sebelumnya US$ 71,57.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,1% menjadi US$ 67,82 per barel, dibandingkan US$ 68,58 pada sesi sebelumnya.

Sentimen pasar melemah setelah Qatar mengumumkan pembicaraan tidak langsung antara delegasi AS dan Iran di Doha telah berakhir dengan "kemajuan positif" pada isu-isu terkait nota kesepahaman baru-baru ini.

"Para mediator Qatar dan Pakistan menyelesaikan pertemuan terpisah dengan para negosiator AS dan Iran di Doha hari ini, dengan kemajuan positif yang dicapai pada isu-isu terkait Nota Kesepahaman Islamabad, berdasarkan hasil KTT Danau Lucerne," tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Majed Al Ansari pada platform X.

"Para pihak sepakat untuk melanjutkan diskusi selama periode mendatang, dengan pertemuan berikutnya dijadwalkan sesegera mungkin setelah prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei," ia menambahkan.

Khamenei meninggal dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari. Pemakamannya dijadwalkan pada Jumat. Meskipun prospek diplomatik membaik, perkembangan seputar Selat Hormuz tetap menjadi fokus.

 

Sentimen Harga Minyak Lainnya

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkritik pertemuan keamanan regional yang diselenggarakan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) di Bahrain. Ia menuturkan, pertemuan semacam itu tidak dapat membangun kerangka keamanan yang sah untuk Teluk.

Dalam sebuah unggahan di X, Gharibabadi mengatakan, keamanan regional hanya dapat dicapai melalui penghentian intervensi asing, penarikan pasukan AS dari kawasan tersebut, penghormatan terhadap kedaulatan nasional, dan pengakuan realitas geopolitik baru, “bukan di bawah payung militer Amerika.” Ia juga mengatakan, status masa depan Selat Hormuz akan ditentukan oleh Teheran, bukan CENTCOM.

CENTCOM menjadi tuan rumah bagi para pejabat pertahanan senior dari 12 negara di Bahrain pada Rabu untuk membahas keamanan regional, kerja sama pertahanan, dan perlindungan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.

Membatasi penurunan harga, data persediaan AS terbaru menunjukkan permintaan bahan bakar yang tangguh. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengatakan persediaan minyak mentah komersial turun sekitar 3,8 juta barel menjadi 408,4 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Juni, melebihi ekspektasi pasar untuk penurunan sekitar 2,9 juta barel.

Cadangan minyak strategis juga menurun sekitar 5,5 juta barel menjadi 325,7 juta barel, sementara persediaan bensin turun sekitar 2,3 juta barel menjadi 214 juta barel.

Para analis mengatakan, kombinasi meredanya ketegangan geopolitik dan sinyal permintaan AS yang lebih kuat dari perkiraan kemungkinan akan membuat harga minyak tetap sensitif terhadap perkembangan diplomatik dan data persediaan dalam sesi mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya