Jalan Pengabdian Tak Biasa Ipda Saihun, Menjadi Guru Ngaji Selepas Berdinas

Ipda Saihun punya tekad anak-anak bebas dari gadget.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 01 Juli 2026, 20:38 WIB
Polisi di Lampung Nyambi Mengajar Mengaji (Foto: Ardi Munthe/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Ketika sebagian orang memilih beristirahat usai bekerja, Ipda Saihun justru melakukan rutinitas berbeda. Seusai menjalankan tugas sebagai PS Paur Sibinpenakta Subdit Bintibsos Ditbinmas Polda Lampung, ia langsung menuju Masjid Tawakal Rahayu di Kelurahan Sukabumi Indah, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung.

Menjelang azan magrib, puluhan anak sudah menunggu kedatangannya. Di teras masjid, perwira pertama Polri itu mengajarkan membaca Alquran, menghafal doa-doa harian, hingga menanamkan nilai-nilai akhlak dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.

Kegiatan tersebut bukan hal baru bagi Saihun. Ia mengaku telah mengajar mengaji sejak masih berpangkat Bharada dan tetap mempertahankan kebiasaan itu hingga kini.

"Alhamdulillah masih rutin mengajar. Santri yang aktif sekitar 25 sampai 30 anak. Sekarang sedang masa libur sekolah sehingga sebagian pulang kampung," kata Saihun dikonfirmasi Liputan6.co, Rabu (1/7/2026).

Setiap sore, kegiatan belajar dimulai sebelum salat magrib dan berakhir setelah salat Isya berjemaah. Namun bagi Saihun, tujuan utamanya bukan sekadar membuat anak-anak lancar membaca Alquran.

Ia ingin membangun kebiasaan agar anak-anak mencintai masjid sejak usia dini. Karena itu, anak-anak yang belum siap mengaji dan hanya ingin bermain di lingkungan masjid pun tetap diterima.

"Yang penting mereka terbiasa datang ke masjid. Mau mengaji, bermain, atau sekadar berkumpul tidak masalah. Nanti kalau sudah nyaman, mereka akan belajar dengan sendirinya," ujarnya.

Masjid Tawakal Rahayu memiliki nilai emosional bagi Saihun karena berdiri di atas tanah wakaf keluarganya. Hal itu menjadi salah satu alasan dirinya merasa bertanggung jawab menghidupkan kegiatan keagamaan di masjid tersebut.

Dalam kondisi normal, sekitar 30 anak rutin mengikuti kegiatan mengaji setiap sore.

 

 

Usaha Bebaskan Anak dari Gadget

Polisi di Lampung Nyambi Mengajar Mengaji (Foto: Ardi Munthe/Liputan6.com)

Menurut Saihun, tantangan terbesar saat ini bukan mengajarkan huruf hijaiyah, melainkan mengurangi ketergantungan anak terhadap telepon genggam.

Karena itu, ia berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan agar anak-anak lebih memilih menghabiskan waktu di masjid daripada bermain ponsel.

"Minimal satu sampai dua jam mereka lepas dari handphone, bertemu teman-teman, belajar mengaji, dan salat berjamaah. Itu yang ingin kami bangun," ungkapnya.

Seluruh kegiatan mengaji diberikan secara gratis. Meski demikian, Saihun tetap menerapkan kedisiplinan. Jika ada santri yang mulai jarang hadir, ia akan menghubungi orang tua agar ikut mendorong anak-anak kembali belajar mengaji.

Saat tugas dinas membuatnya tidak bisa hadir, proses belajar tetap berjalan dengan bantuan mahasiswa UIN yang menjadi guru pendamping. Pada awalnya, biaya transportasi mereka bahkan ditanggung dari uang pribadi Saihun sebelum akhirnya dibantu melalui kas Masjid Tawakal Rahayu.

Kebahagiaan Melihat Santri Lancar Mengaji

Bagi Saihun, rasa lelah setelah berdinas seolah terbayar ketika melihat para santri mulai lancar membaca Al-Qur'an dan menghafal doa-doa harian.

"Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tetapi pedoman hidup. Saya berharap sejak kecil mereka mencintai Al-Qur'an dan menjadikannya pegangan dalam kehidupan," tuturnya.

Ia mengaku beberapa kali harus membatalkan jadwal mengajar karena tugas mendadak. Meski membuat anak-anak kecewa, Saihun selalu berusaha menepati janji di kesempatan berikutnya agar semangat mereka tetap terjaga.

Salah satu santri, Calista, mengaku senang mengikuti kegiatan mengaji karena guru yang mengajarnya sabar dan selalu memberikan motivasi.

"Aku senang ngaji di sini karena Pak Ustaz baik dan sabar. Kalau kami bisa baca atau hafalan, beliau selalu kasih semangat," ujar siswi kelas 1 SD tersebut.

Kini, waktu menjelang maghrib bagi Calista bukan lagi dihabiskan bermain gawai.

"Kalau sudah sore aku maunya ke masjid. Bisa ngaji, salat berjamaah, terus main sama teman-teman. Di sini lebih seru daripada main handphone," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya