Liputan6.com, Jakarta - Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga telur ayam ras Rp 29.750 per kilogram (kg), sedangkan bawang merah Rp 50.950 per kg pada Sabtu pagi.
Berdasarkan data dari PIHPS, selain telur ayam dan bawang merah, tercatat harga pangan di tingkat pedagang eceran secara nasional lainnya, yakni bawang putih di harga Rp 43.600 per kg.
Advertisement
Selain itu, beras kualitas bawah I di harga Rp 14.600 per kg, beras kualitas bawah II Rp 14.600 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp 16.300 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp 16.100 per kg.
Lalu, beras kualitas super I di harga Rp 17.600 per kg, dan beras kualitas super II Rp 17.100 per kg.
Selanjutnya, PIHPS mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp 53.100 per kg, cabai merah keriting Rp 53.500 per kg, cabai rawit hijau Rp 51.900 per kg, dan cabai rawit merah Rp 69.750 per kg.
Kemudian, daging ayam ras segar Rp 37.200 per kg, daging sapi kualitas I Rp 149.200 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 140.200 per kg.
Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 20.300 per kg, gula pasir lokal Rp 19.750 per kg.
Sementara itu, minyak goreng curah di harga Rp 20.550 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 24.200 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 23.350 per liter.
Produksi Beras Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara
Sebelumnya, Food and Agriculture Organization (FAO) kembali menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh.
“FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh," kata Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangannya, dikutip Sabtu (20/6/2026).
Menariknya, dari empat negara produsen beras terbesar tersebut, hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan produksi pada periode mendatang.
Bahkan jika dibandingkan musim 2024/2025, Indonesia menjadi negara dengan lonjakan produksi paling besar pada periode 2025/2026. Kenaikan produksinya diperkirakan melampaui 4 juta ton, jauh di atas India yang bertambah 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.
FAL menyoroti besarnya stok beras serta stabilnya harga di tingkat petani. Dalam dokumen Food Outlook edisi Juni 2026, FAO menyebut kenaikan stok beras Indonesia menjadi salah satu faktor yang menopang cadangan beras global. Stok beras dunia pada akhir musim 2026/2027 diperkirakan mencapai 213,8 juta ton, menjadi level tertinggi kedua dalam satu dekade terakhir.
Amran mengatakan, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini telah menembus 5,2 juta ton. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menegaskan tidak ada rencana membuka keran impor beras konsumsi.
"Stok kita per hari ini sekitar 5,2 juta ton dan dalam kondisi aman. Yang terpenting, sejak 2025 tidak ada izin impor beras medium yang diterbitkan hingga sekarang,” kata Amran.
Stok Beras Nasional
Menurut Amran, besarnya stok beras nasional bahkan melampaui kapasitas penyimpanan Bulog yang hanya sekitar 3 juta ton. Untuk menampung kelebihan stok, Bulog terpaksa menyewa gudang tambahan berkapasitas sekitar 2,2 juta ton.
Ia pun mempersilakan masyarakat yang masih meragukan kondisi stok beras nasional untuk melihat langsung ke gudang-gudang Bulog di berbagai daerah.
“Kalau belum yakin, silakan datang ke gudang Bulog di seluruh Indonesia,” ujarnya.
FAO memperkirakan, stok beras Indonesia pada periode 2025/2026 dapat mencapai 7,5 juta ton dan meningkat menjadi 7,8 juta ton pada 2026/2027. Dengan tren tersebut, peluang Indonesia untuk kembali memasuki pasar ekspor beras dinilai semakin terbuka.
Di sisi lain, Amran menegaskan, beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi dalam dua tahun terakhir. Data menunjukkan tekanan harga beras terus mereda setelah sempat melonjak pada Mei 2024 sebesar 3,59%.
Setelah periode tersebut, inflasi beras bergerak lebih stabil. Bahkan ketika sempat naik pada Juli 2025, angkanya hanya mencapai 1,35%. Sementara pada Mei 2026, inflasi beras tercatat sebesar 0,38%.