Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolas Maduro, menyampaikan solidaritas kepada rakyat Venezuela menyusul dua gempa mematikan yang mengguncang negara itu pada Rabu (24/6/2026). Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di saluran Telegram resminya.
"Hari ini, hanya ada satu pesan: persatuan yang sebesar-besarnya, solidaritas yang sebesar-besarnya, dan tindakan yang sebesar-besarnya," demikian bunyi pesan yang disampaikan atas nama Maduro dan istrinya, Cilia Flores de Maduro seperti dikutip dari CNN.
Advertisement
Maduro dan istrinya saat ini ditahan oleh otoritas federal di New York, Amerika Serikat (AS). Keduanya didakwa atas kasus perdagangan narkoba dan kepemilikan senjata setelah diculik oleh pasukan AS di kompleks kepresidenan di Caracas pada awal Januari.
"Jangan biarkan seorang pun sendirian. Setiap komunitas hendaknya menjaga anak-anak, para lansia, dan mereka yang sedang sakit," kata Maduro dalam unggahan di Telegram tersebut, seraya mengimbau masyarakat mendukung upaya tim penyelamat dan tenaga medis.
"Venezuela telah menghadapi berbagai cobaan besar. Kali ini pun kita akan berhasil melewatinya dengan tetap kuat, berbekal iman, disiplin, dan solidaritas."
Sedikitnya 32 orang tewas dan 700 lainnya terluka akibat dua gempa besar yang mengguncang Venezuela, ungkap laporan Associated Press mengutip pernyataan presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez.
Jumlah korban, kata Rodriguez, diperkirakan masih akan bertambah.
Ujian Komitmen AS
Bencana gempa ini akan menjadi ujian bagi komitmen AS dalam mendukung Venezuela. Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan AS akan "mengelola" negara itu setelah menggulingkan Maduro pada Januari lalu.
Saat itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Gedung Putih memiliki rencana tiga tahap bagi Venezuela, yakni stabilisasi, pemulihan, dan transisi.
Sejak itu, Trump beberapa kali membanggakan keberhasilan intervensi AS di Venezuela, termasuk kemitraannya dengan Rodriguez.
Dalam kampanye di Pennsylvania, sehari sebelum gempa mematikan mengguncang Venezuela, Trump mengatakan negara itu "berjalan dengan sangat baik".
"Hubungan kami sangat baik. Orang-orang yang memimpin negara itu adalah orang-orang kami, mereka orang-orang hebat. Dan rakyat di sana bahagia. Mereka bisa tersenyum. Dulu mereka hidup dalam kesengsaraan dan kelaparan," kata Trump.
Trump juga mengatakan pendapatan dari ekstraksi jutaan barel minyak telah membuat AS memperoleh kembali biaya perang hingga 28 kali lipat.
"Sekarang kami menghasilkan banyak uang dari Venezuela dan Venezuela berada dalam kondisi yang sangat baik," klaimnya.
Namun, gambaran optimistis yang disampaikan Trump bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Sekitar 28 juta penduduk Venezuela masih bergulat dengan inflasi tinggi, upah rendah, sensor, serta krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Gempa yang melanda diperkirakan akan semakin memperburuk gejolak ekonomi dan politik di negara tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu malam, Trump mengatakan AS "siap, bersedia, dan mampu membantu".
"Saya telah menginstruksikan seluruh lembaga pemerintahan kami untuk bersiap memberikan respons secepat mungkin," tulis Trump. "Kami akan hadir untuk membantu sahabat-sahabat baru kami."