Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini Kamis (25/6/2026). Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.950-Rp 18.020 per dolar AS, di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang masih mempengaruhi pergerakan pasar keuangan.
"Untuk perdagangan Kamis (25/6/2026) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.950- Rp 18.020," kata Ibrahim kepada media, Kamis (25/6/2026).
Advertisement
Adapun pada perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah ditutup melemah 93 poin ke level Rp 17.952 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.859 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang rupiah bahkan sempat tertekan hingga melemah 105 poin.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang meski menunjukkan tanda-tanda mereda, namun masih menyisakan berbagai ketidakpastian.
Washington disebut memberikan keringanan sanksi kepada Teheran selama 60 hari setelah pembicaraan perdamaian awal sehingga Iran kembali memiliki ruang untuk menjual minyak. Di saat yang sama, meredanya konflik di Lebanon turut memberikan sentimen positif bagi pasar energi.
Namun demikian, sejumlah isu penting masih belum menemukan titik terang, terutama terkait inspeksi program nuklir Iran serta akses terhadap dana Iran yang selama ini dibekukan.
Di sisi lain, Oman dan Iran juga sepakat melanjutkan pembahasan mengenai pengelolaan navigasi di Selat Taiwan pada masa mendatang. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa setiap upaya Iran untuk mengenakan biaya transit akan bertentangan dengan hukum internasional.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu. Pernyataan tersebut langsung dibantah Teheran yang menegaskan tidak pernah memberikan konsesi seperti itu dalam proses negosiasi.
Stimulus Pemerintah dan Keputusan MSCI
Di tengah tekanan eksternal, sentimen domestik memberikan dukungan bagi pergerakan rupiah. Pasar merespons positif keputusan MSCI yang menunda penilaian aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026.
"Peninjauan yang diperpanjang ini menyusul kekhawatiran yang muncul awal tahun ini mengenai aksesibilitas pasar, dengan penyedia indeks membekukan perubahan pada indeks ekuitas Indonesia pada Januari karena masalah investability," ujarnya.
Proses peninjauan yang masih berlangsung dinilai penting karena akan menjadi salah satu indikator persepsi investor global terhadap kualitas, keterbukaan, serta efisiensi pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Selain itu, pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II 2026 untuk mengantisipasi meningkatnya ketidakpastian global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Paket kebijakan tersebut mencakup berbagai insentif perpajakan, dukungan untuk sektor transportasi, penguatan industri, serta perluasan bantuan sosial guna menjaga konsumsi masyarakat dan aktivitas usaha.