Sejarah Penangkapan Pangeran Diponegoro Direkonstruksi

Reka ulang dilaksanakan melalui pergelaran teater yang dimainkan puluhan pemain Teater Ikra. Museum Fatahillah dipilih sebagai tempat pergelaran karena di tempat itu Diponegoro pernah dipenjara.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 Juni 2004, 14:58 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Penangkapan Pangeran Diponegoro dengan tipu muslihat kolonial Belanda melalui Jenderal De Kock direkonstruksi dalam sebuah pergelaran teater di pelataran Museum Fatahillah atau yang kini dikenal Museum Sejarah Jakarta, Ahad (6/6) pagi. Acara yang digelar pihak Museum Fatahillah bekerja sama dengan Teater Ikra ini untuk merekonstruksi sejarah dan memperkenalkan kepahlawanan Pangeran Diponegoro pada generasi muda. Acara ini melibatkan puluhan pemain, di antaranya warga asing yang tinggal di Jakarta.

Museum Sejarah Jakarta dipilih sebagai tempat pergelaran karena tempat ini dahulunya adalah gudang rempah-rempah dan penjara kolonial Belanda. Pangeran Diponegoro pernah ditahan di penjara bawah tanah gedung tersebut.

Pada adegan awal, Pangeran Diponegoro mengadakan pembicaraan dengan utusan Jenderal De Kock untuk menentukan tempat pertemuan di wilayah netral, yakni Magelang. Alhasil disepakati waktu dan tempatnya. Singkat cerita, Diponegoro menemui De Kock di Magelang. Dalam pertemuan, De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Belanda rupanya telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Ungaran, kemudian ke Semarang, dan langsung ke Jakarta.(DEN/Mardianto dan Eko Purwanto)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya