Liputan6.com, Jakarta - PT Bach Multi Global Tbk, perusahaan bergerak di penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi menggelar penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) maksimal 615 juta saham ke publik.
Jumlah saham itu setara 15,06% dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan nilai nominal Rp 50. Perseroan menawarkan harga saham perdana di kisaran Rp 400-Rp 500. Dengan demikian, dana IPO yang akan diraup maksimal Rp 246 miliar-Rp 307,5 miliar.
Advertisement
Perseroan akan memakai dana IPO sekitar Rp 91,02 miliar untuk pembayaran sebagian utang kepada Bank Permata atas fasilitas pinjaman jangka pendek.
"Sisanya sekitar Rp 213,48 miliar akan digunakan sebagai modal kerja dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan,” demikian seperti dikutip.
Dalam prospektus, perseroan menyebutkan setiap purchase order atas pembelian genset itu memiliki jumlah berbeda-beda dengan uang muka yang telah dibayarkan pada Januari-Maret 2026 sebesar Rp 18,17 miliar.
Seluruh genset yang dibeli merupakan genset yang dilakukan bertahap mulai Juli 2026 sampai dengan perkiraan Oktober 2026. Hal ini bergantung pada waktu tiba pengiriman genset ke perseroan akan berasal dari kas internal perseroan.
Hingga 2025, perseroan meraup laba tahun berjalan Rp 155,55 miliar dari 31 Desember 2024 sebesar Rp 78,74 miliar. Pendapatan naik menjadi Rp 1,73 triliun pada 2025 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,24 triliun.
Ekuitas perseroan tercatat Rp 535,95 miliar pada 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 434,01 miliar. Liabilitas naik menjadi Rp 696,67 miliar dari 2024 sebesar Rp 381,59 miliar. Aset perseroan naik menjadi Rp 1,23 triliun pada 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 815,60 miliar.
Terkait kebijakan dividem, perseroan berniat membayar dividen maksimal 50% mulai 2027 berdasarkan dair laba bersih 2026 setelah pelaksanaan IPO.
Untuk menggelar IPO ini, perseroan telah menunjuk PT Erdikha Elit Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Berikut jadwal IPO:
- Masa penawaran awal pada 22-24 Juni 2026
- Tanggal efektif pada 29 Juni 2026
- Masa penawaran umum pada 1 Juli 2026-3 Juli 2026
- Tanggal penjatahan pada 3 Juli 2026
- Tanggal distribusi saham secara elektronik pada 6 Juli 2026
- Tanggal pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026
IPO, Esa Medika Tawarkan 522,85 Juta Saham ke Publik
Sebelumnya, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), perusahaan bergerak di perdagangan besar alat laboratorium, alat farmasi dan alat kedokteran akan melepas 522,85 juta saham ke publik. Hal itu dalam rangka penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Mengutip laman e-ipo, Minggu, (21/6/2026), PT Esa Medika Mandiri melepas saham itu sekitar 30% dari jumlah modal dan disempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO dengan nilai nominal Rp 50 per saham.
Perseroan menawarkan harga perdana di kisaran Rp 446-Rp 515 per saham. Dengan demikian, dana IPO yang diincar maksimal Rp 269,27 miliar.
Selain itu, perseroan mengalokasikan maksimal 10% saham atau maksimal 52.285.700 saham untuk program alokasi saham kepada karyawan perseroan atau employee stock allocation (ESA).
Dana IPO antara lain akan dipakai untuk pembayaran sebagian pokok pinjaman sebesar Rp 50 miliar. Lalu sekitar 11,8% untuk pengembangan usaha perseroan yaitu dalam bentuk belanja modal untuk pembangunan gedung pabrik Cikupa. Kemudian maksimal 68,7% untuk keperluan modal kerja perseroan yakni pembelian barang terkait proyek serta pembelian bahan baku.
Pemegang saham perseroan setelah IPO dan program ESA antara lain Surya Gunawan Widjaja sebesar 21%, Eddy Lie sebesar 10%, Andrew Ignatius Widjaja sebesar 16%, Florian Chris Widjaja sebesar 11%, Andrian Matthew Widjaja sebesar 11%, dan kepemilikan masyarakat di bawah 5% sebesar 27%. Sedangkan untuk program ESA sebesar 3%.
Kebijakan Dividen
Setelah IPO, perseroan akan memakai tahun buku yang berakhir pada 2027 untuk membagikan dividen tunai kepada pemegang saham. Maksimal dividen yang akan dibagikan sebesar 30% dari laba bersih tahun berjalan perseroan.
“Besarnya pembagian dividen ditentukan berdasarkan hasil RUPS Tahunan Perseroan dan akan bergantung pada hasil kegiatan usaha dan arus kas Perseroan serta prospek usaha, kebutuhan modal kerja, belanja modal dan rencana investasi Perseroan di masa yang akan datang dan dengan memperhatikan pembatasan peraturan dan kewajiban lainnya,” demikian seperti dikutip.