Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin sore, 22 Juni 2026. Pelemahan mata uang rupiah didorong oleh sentimen geopolitik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan rupiah ditutup melemah 39 poin ke level 17.843 per dolar Amerika Serikat dibanding sebelumnya 17.801.
Advertisement
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 39 poin, sebelumnya sempat menguat 15 poin di level Rp 17.843 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.801," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Adapun faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni sentimen pasar terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran tentang potensi aksi militer tambahan kecuali Iran mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Libanon.
Komentar tersebut muncul ketika Wakil Presiden AS JD Vance membuka babak baru pembicaraan diplomatik dengan perwakilan Iran di Swiss. Namun, kata Ibrahim, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global. dan menekan harga minyak mentah.
Oleh karena itu, para pejabat tinggi AS dan Iran menyelesaikan putaran pertama pembicaraan mereka di Swiss pada Senin, kata para mediator. Pembicaraan dimulai pada Minggu berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata yang rapuh dari April setidaknya selama 60 hari lagi.
Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan "kemajuan yang baik" telah dicapai selama pembicaraan segi empat di Swiss, sementara mediator dari Qatar dan Pakistan mengatakan para negosiator telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas.
Diskusi teknis dijadwalkan akan berlanjut sepanjang minggu.Di sisii lain, perhatian pasar pada data ekonomi AS minggu ini, terutama pada perkiraan terakhir angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), ukuran inflasi pilihan The Federal Reserve (the Fed) akhir pekan ini untuk petunjuk baru tentang arah kebijakan moneter.
Faktor Internal
Sementara itu, dari sisi domestik yang mempengaruhi pelemahan rupiah adalah proyeksi dari Bank Indonesia (BI) terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya kenaikan pada jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional.
"Saat ini terdapat sejumlah faktor risiko inflasi yang mencuat dan menjadi perhatian bank sentral," ujarnya.
Tantangan utama berasal dari rambatan global berupa transmisi harga minyak dan komoditas ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation. Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Faktor risiko kedua yang tengah diwaspadai adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober, dan November. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memberikan tekanan pada kelompok harga pangan bergejolak (volatile food).
Meski demikian, BI menilai risiko dari sisi hulu pertanian, seperti lonjakan harga pupuk, dapat diredam karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai masih sangat mencukupi. Oleh sebab itu, BI mengonfirmasi, laju inflasi memang mulai menunjukkan tren peningkatan. Akan tetapi, Aida memastikan bahwa proyeksi inflasi tetap terjangkar dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh bank sentral dan pemerintah, yaitu 2,5% plus minus 1%., paling tinggi kita 3,5%.