BI Rate Naik, Debitur Diimbau Waspada Kenaikan Cicilan Pinjaman

Perencana keuangan menuturkan, BI Rate naik biasanya diikuti penyesuaian bunga kredit bank.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 21 Juni 2026, 12:00 WIB
Ilustrasi pinjaman (Foto: Unsplash/Scott Graham)

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) membawa dampak bagi masyarakat maupun pelaku usaha, terutama yang memiliki pinjaman dengan bunga mengambang atau floating rate. Kondisi ini membuat biaya pinjaman berpotensi meningkat sehingga perlu diantisipasi sejak dini.

Financial Planner sekaligus CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, mengatakan kenaikan BI Rate umumnya akan diikuti oleh penyesuaian suku bunga kredit perbankan. Dampaknya, debitur dengan skema bunga mengambang berisiko menghadapi cicilan yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Menurut Melvin, individu maupun pelaku usaha yang memiliki pinjaman perlu mulai menyusun strategi pengelolaan utang agar tidak terbebani kenaikan bunga dalam jangka panjang.

"Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mempercepat pelunasan sebagian pokok pinjaman atau mengurangi beban cicilan jika memungkinkan,” ujarnya kepada Liputan6.com, Minggu (21/6/2026).

Ia menjelaskan, pengelolaan utang menjadi semakin penting ketika tren suku bunga bergerak naik. Dengan mengurangi saldo pinjaman lebih cepat, debitur dapat menekan total bunga yang harus dibayarkan ke depan.

Meski demikian, kenaikan BI Rate tidak hanya membawa dampak negatif. Bagi masyarakat yang memiliki dana menganggur, kondisi ini justru membuka peluang memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari produk simpanan perbankan.

Melvin menilai, tabungan berjangka dan deposito berpotensi menawarkan tingkat pengembalian yang lebih menarik seiring kenaikan suku bunga.

Selain itu, instrumen pendapatan tetap atau fixed income juga menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Produk seperti obligasi negara dan Surat Berharga Negara (SBN) berpeluang memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibanding sebelumnya.

“Kenaikan suku bunga biasanya akan membuat instrumen fixed income menjadi lebih menarik karena yield yang ditawarkan ikut meningkat,” kata Melvin.

Karena itu, di tengah tren kenaikan suku bunga, masyarakat disarankan tidak hanya fokus pada risiko bertambahnya biaya pinjaman, tetapi juga memanfaatkan peluang untuk mengoptimalkan penempatan dana pada instrumen investasi yang sesuai dengan profil risikonya.

Rupiah Diprediksi Kembali Tembus 18.000 Setelah BI Rate Naik Lagi

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih akan menghadapi tekanan dalam waktu dekat meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Bahkan, ia menilai rupiah berpotensi kembali melemah hingga menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). "Saya perkirakan ya kemungkinan akan kembali ke level Rp  18 ribu lagi," kata Ibrahim kepada media, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Ibrahim, langkah BI menaikkan suku bunga belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap penguatan mata uang rupiah. Hal itu terlihat dari respons pasar yang tetap menunjukkan pelemahan rupiah setelah pengumuman kebijakan moneter tersebut. Ia menilai, sejumlah sentimen global masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah, mulai dari ketidakpastian pasar keuangan internasional hingga meningkatnya kembali tensi perang dagang dunia.

Ibrahim menjelaskan, rupiah sempat merespons positif keputusan BI dengan penguatan terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena tekanan jual kembali mendominasi pasar. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan, pasar belum sepenuhnya yakin kenaikan suku bunga dapat menjadi solusi efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Bahwa pasar menolak ya Bank Indonesia menaikkan suku bunga walaupun Gubernur Bank Indonesia sudah mengatakan bahwa tujuan menaikkan suku bunga adalah untuk stabilitas mata uang rupiah," ujarnya.

 

Perang Dagang Jadi Sumber Kekhawatiran

Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memastikan keseimbangan supply dan demand di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ibrahim mengatakan, pasar saat ini masih mencermati sejumlah risiko eksternal yang berpotensi memicu keluarnya aliran modal asing dari Indonesia. Salah satunya adalah meningkatnya kembali ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China setelah Washington menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan teknologi asal Negeri Tirai Bambu.

"Di sisi lain pun juga tentang masalah perang dagang. Ya perang dagang ini sudah mulai kembali mengemuka apalagi setelah Amerika memberikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan teknologi di Tiongkok. Ini yang membuat ketegangan tersendiri," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya