Liputan6.com, Gaza - Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan sedikitnya 265 anak Palestina tewas di Jalur Gaza sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025. Organisasi tersebut menyebut kondisi itu menunjukkan bahwa penghentian permusuhan belum memberikan perlindungan nyata bagi warga sipil, khususnya anak-anak.
Juru Bicara UNICEF James Elder mengatakan rata-rata satu anak meninggal dunia setiap hari selama lebih dari delapan bulan sejak gencatan senjata diberlakukan, dikutip dari laman Antara News, Minggu (21/6/2026).
Advertisement
"Dalam periode yang seharusnya ditandai pengendalian diri dan perlindungan, rata-rata satu anak terbunuh setiap hari selama lebih dari delapan bulan," kata Elder dalam konferensi pers di Jenewa, Jumat.
Ia menyebut gencatan senjata di Gaza sebagai "ilusi yang kejam dan mematikan" karena kekerasan masih terus terjadi.
"Saat dunia terus berbicara tentang gencatan senjata, keluarga-keluarga di Gaza masih terus menguburkan putra dan putri mereka," ujarnya.
Menurut UNICEF, anak-anak menjadi korban di berbagai lokasi, termasuk di rumah, sekolah, ruang publik, saat bermain sepak bola, hingga ketika memancing.
Elder mengungkapkan sejumlah kasus yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, di antaranya seorang balita berusia dua tahun yang ditembak hingga tewas, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang tewas di dalam tenda, serta seorang anak berusia lima tahun yang meninggal bersama ayahnya akibat serangan Israel.
Selain korban jiwa, UNICEF mencatat lebih dari 400 anak mengalami luka-luka sejak Oktober 2025. Banyak di antaranya menderita cedera serius yang membutuhkan penanganan medis segera.
"Penderitaan tidak berhenti pada mereka yang tewas. Lebih dari 400 anak terluka, banyak di antaranya mengalami luka yang sangat parah," kata Elder.
Ia mencontohkan seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang tertembak di dada saat berada di dalam tenda, serta balita perempuan berusia tiga tahun yang mengalami luka tembak di wajah akibat peluru yang ditembakkan dari pesawat nirawak (drone) jenis quadcopter ketika berada di rumahnya.
Butuh Bantuan Medis
UNICEF juga memperingatkan bahwa ratusan anak membutuhkan evakuasi medis segera. Menurut organisasi tersebut, keterbatasan pasokan obat-obatan penting meningkatkan risiko infeksi, komplikasi, hingga amputasi pada korban luka.
Selain dampak fisik, Elder menyoroti beban psikologis yang dialami anak-anak di Gaza akibat konflik berkepanjangan.
"Bagi anak-anak Gaza, ketakutan, kehilangan, dan kekerasan telah menjadi bagian yang begitu konstan sehingga trauma bukan lagi sekadar episode dalam hidup mereka, melainkan telah menyatu dalam masa kanak-kanak mereka," ujarnya.
UNICEF mendesak pemerintah dan komunitas internasional mengambil langkah nyata untuk melindungi anak-anak serta memastikan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.
Dalam kesempatan yang sama, UNICEF juga menyampaikan bahwa sejak eskalasi konflik di Lebanon pada 2 Maret, sedikitnya 247 anak dilaporkan tewas dan 992 lainnya mengalami luka-luka.
"Tidak ada gencatan senjata yang dapat dianggap bermakna selama anak-anak masih terus terbunuh," kata Elder.