Liputan6.com, Jakarta - Muharram memiliki keistimewaan yang luar biasa bagi seluruh umat Islam di dunia. Terdapat berbagai amalan 10 muharram atau hari Asyura yang dianjurkan untuk meraih limpahan keberkahan di hari mulia ini.
Salah satu ibadah yang paling utama adalah melaksanakan puasa Asyura secara ikhlas. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis, "Puasa pada hari Asyura, aku sungguh berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya," riwayat Muslim.
Advertisement
Selain ibadah puasa, melonggarkan nafkah untuk keluarga juga sangat ditekankan oleh syariat agama. Imam Al Ghazali di dalam kitab Mukashafah Al Qulub menjelaskan bahwa siapa yang membahagiakan keluarganya saat Asyura, Allah melapangkan rezekinya setahun.
Oleh sebab itu, momen sangat mulia pada bulan yang penuh rahmat ini hendaknya tidak pernah dilewatkan begitu saja. Merangkum berbagai literatur klasik dan kontemporer, berikut ini adalah amalan-amalan yang dianjurkan dilakukan pada 10 Muharram.
1. Puasa Asyura
Puasa pada tanggal 10 Muharram (Asyura) merupakan amalan paling utama di hari ini. Rasulullah SAW bersabda: "Puasa pada hari Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar puasa itu dapat menghapus dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim).
Puasa Asyura termasuk puasa sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Di samping menghapus dosa setahun lalu, puasa ini juga termasuk puasa sunnah paling utama setelah Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah—Muharram."
Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dosa yang digugurkan adalah dosa-dosa kecil. Apabila tidak terdapat dosa kecil, maka akan dituliskan kebaikan dan diangkat derajatnya. Dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menambahkan bahwa puasa Asyura telah dikenal sejak zaman Jahiliyah, namun Rasulullah ﷺ kemudian menyempurnakannya dengan memerintahkan puasa Tasu'a (9 Muharram) untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi.
Niat Puasa Asyura
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: "Saya berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah SWT."
Waktu Darurat (Siang Hari - Jika Lupa Niat Malam):
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatil âsyûrâ lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: "Saya berniat puasa sunah Asyura hari ini karena Allah SWT."
2. Memperbanyak Doa di Hari Asyura
Hari Asyura adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Berikut beberapa doa yang dianjurkan dengan sumber kitabnya:
1. Doa Asyura dalam Kanzun Najah wa Surur
Doa ini termaktub dalam kitab Kanzun Najah wa Surur karya Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus (hlm. 18):
Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ, لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّاَ إِلَيْهِ, سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَآمَّاتِ كُلِّهَا, نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ كُلَّهَا بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّاَ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Suci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, dan sebesar timbangan 'Arsy. Tiada tempat berlindung dan tiada tempat menyelamatkan diri dari Allah kecuali kepada-Nya..."
2. Dzikir Singkat "Hasbunallah wa Ni'mal Wakil"
Dzikir ini dianjurkan oleh Imam Al-Ajhuri pada hari Asyura.
Arab: حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
Latin: Hasbunallāhu wa ni'mal wakīl, ni'mal maulā wa ni'man nashīr.
Artinya: "Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung dan penolong."
3. Doa Asyura Versi Lain (Dzikir Tasbih)
Doa ini juga populer di kalangan umat Islam pada hari Asyura.
Latin: Subhânallâhi mil-al mîzani wa muntahal 'ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni'ami wa zinatal 'arsyi.
Artinya: "Mahasuci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan 'Arsy."
3. Sedekah dan Melapangkan Nafkah Keluarga
Sedekah di hari Asyura memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam sebuah hadis riwayat At-Thabarani dan Al-Baihaqi:
"Barang siapa melapangkan (nafkah) untuk keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan (rezeki)nya sepanjang tahunnya."
Sayyid Abi Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam kitab I'anatut Thalibin menjelaskan bahwa yang dimaksud "melapangkan keluarga" adalah mencukupi kebutuhan hidup keluarga, baik kebutuhan makanan maupun kebutuhan lainnya.
Syaikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayatuz Zain menegaskan bahwa di antara amalan yang paling shahih pada hari Asyura adalah puasa dan melapangkan nafkah keluarga.
4. 12 Amalan Menurut Para Ulama Para ulama
Sebagaimana disebutkan oleh Sayyid Bakri bin Sayyid M Syatha Ad-Dimyathi dalam Hasyiyah I'anatut Thalibin 'ala Halli Alfazhi Fathil Mu'in (juz II, halaman 301-302), menyebutkan dua belas amalan pada hari Asyura. Berikut rinciannya:
- Puasa: Amalan paling utama
- Shalat (sunnah): Shalat sunnah umum sangat dianjurkan
- Silaturahmi: Menyambung tali persaudaraan
- Sedekah: Terutama kepada fakir miskin dan anak yatim
- Mandi (al-ightisal): Mandi di pagi hari Asyura
- Bercelak (al-iktihal): Memakai celak/penggaris mata
- Menziarahi orang alim/ulama: Mencari ilmu dan keberkahan
- Menjenguk orang sakit: Amalan sunnah yang mulia
- Mengusap kepala anak yatim: Menunjukkan kasih sayang, menyantuni dan peduli
- Melapangkan nafkah keluarga: Menambah uang belanja
- Memotong kuku: Termasuk sunnah kebersihan
- Membaca Surat Al-Ikhlas 1000 kali: Zikir dan mendekatkan diri kepada Allah
Peringatan Ulama
Para ulama mengingatkan agar tidak mencampuradukkan amalan sunnah dengan ritual bid'ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam bukunya Keutamaan Asyura dan Bulan Muharram menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadis shahih yang menerangkan amalan khusus di hari Asyura selain puasa.
Segala ritual seperti shalat khusus (dengan tata cara tertentu yang diklaim shalat Asyura), mandi besar dengan niat khusus, doa-doa tertentu yang tidak memiliki landasan, atau mengkhususkan ziarah kubur pada hari Asyura adalah perbuatan bid'ah yang tidak memiliki tuntunan.
Buya Yahya juga menjelaskan bahwa tidak ada amalan sunnah selain puasa Asyura yang memiliki dalil shahih. Amalan-amalan lain yang disebutkan dalam sebagian literatur sebagian besar didasarkan pada hadis-hadis yang statusnya dha'if (lemah) atau bahkan maudhu' (palsu). Hadis tentang memakai celak pada hari Asyura, misalnya, adalah salah satu hadis yang tidak shahih.
Namun, para ulama, sebagaimana disebutkan dalam Al-Fatawa al-Hindiyyah, membedakan bahwa hadis dhaif (lemah) masih dapat digunakan untuk fadha'il al-a'mal (motivasi amal saleh), selama tidak berkaitan dengan hukum halal-haram dan akidah.
Dengan demikian, amalan-amalan seperti mengusap kepala anak yatim, menjenguk orang sakit, dan membaca Al-Qur'an, yang secara umum adalah amalan baik, dapat dilakukan kapan pun, namun tidak boleh diyakini sebagai ibadah khusus yang memiliki keutamaan tertentu hanya karena dilakukan pada hari Asyura.
Amalan Bid'ah yang Perlu Diwaspadai
1. Shalat khusus dengan tata cara tertentu yang diklaim "Shalat Asyura"
Tidak ada tuntunan dari Rasulullah ﷺ mengenai shalat khusus di hari Asyura.
2. Mandi besar dengan niat tertentu
Para ulama hadis menilai riwayat tentang keutamaan mandi di hari Asyura sebagai hadis yang tidak shahih.
3. Doa-doa yang diklaim memiliki keutamaan khusus
Doa seperti "Barangsiapa membaca doa ini di hari Asyura, ia tidak akan mati tahun itu" adalah doa palsu dan tidak memiliki asal-usul dari Nabi ﷺ.
4. Keyakinan bahwa Muharram adalah "bulan sial" untuk menikah atau bepergian
Keyakinan ini termasuk tathayyur (merasa sial karena sesuatu) dan dilarang keras dalam Islam karena dapat mengarah pada kesyirikan.
5. Memperingati hari Asyura sebagai hari berkabung atau meratap
Tidak ada tuntunan dalam Islam untuk menjadikan hari Asyura sebagai hari kesedihan, terlebih dengan menyakiti diri sendiri (seperti yang dilakukan sebagian kelompok).
Pertanyaan Terkait Amalan 10 Muharram
Minum susu putih 1 Muharram jam berapa?
Waktu yang dianjurkan untuk minum susu putih pada 1 Muharram adalah malam 1 Muharram, yang bisa dilakukan mulai setelah waktu Maghrib hingga menjelang waktu Subuh.
10 Muharram harus baca apa?
Pada 10 Muharram (Hari Asyura), umat Islam dianjurkan membaca doa Asyura, memperbanyak Surat Al-Ikhlas (sebanyak 1.000 kali), beristighfar, serta membaca zikir pendek seperti Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir untuk memohon perlindungan, keberkahan, dan ampunan.
Amalan apa di malam tahun baru Islam?
Amalan yang dianjurkan pada malam pergantian Tahun Baru Islam (malam 1 Muharram) berpusat pada perbaikan diri dan peningkatan ibadah.
10 Muharram membaca surat apa?
Berikut ini beberapa amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram: Puasa sunnah pada bulan Muharram, terutama puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram dan puasa Tasu'a di tanggal 9 Muharram.