Dolar AS Tertekan terhadap Rupiah, Sentuh 17.689

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap rupiah pada Senin pagi, (15/6/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 15 Juni 2026, 10:27 WIB
Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah berada di bawah posisi 17.700 per dolar AS pada Senin, (15/6/2026). Analis prediksi, rupiah akan bergerak di kisaran 17.750-17.850 per dolar AS.

Berdasarkan data Google Finance, Senin, 15 Juni 2026 pukul 10.06 WIB, dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.689. Sementara itu, berdasarkan data RTI,saat dipantau pukul 10.10 WIB, dolar AS terhadap rupiah di 17.681.

 

Pergerakan dolar AS terhadap rupiah, Senin, (15/6/2026). (Foto: tangkapan layar Google Finance)

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan, rupiah bergerak di kisaran 17.750-17.850 per dolar AS pada awal pekan ini. Ia menuturkan, penguatan rupiah dipicu harapan perdamaian di Timur Tengah antara AS dengan Iran.

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah memicu sentimen risk-on dan penurunan pada harga minyak mentah dunia. Indeks dolar AS turun oleh laporan bahwa kesepakatan damai interim antara AS-Iran telah tercapai," ujar dia dikutip dari Antara.

Sementara itu, Ekonom BCA David Sumual menuturkan, rupiah dalam jangka pendek akan bergerak di kisaran 17.700-18.100 per dolar AS. David mengatakan, pergerakan rupiah didorong sentimen eksternal dan domestik. Salah satu faktor eksternal yang masih menjadi perhatian yakni perkembangan konflik di Timur Tengah.

Mengutip Sputnik, kesepakatan final antara Iran dan Amerika Serikat akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), demikian dilaporkan kantor berita Iran, Mehr, mengutip rancangan nota kesepahaman antara Teheran dan Washington.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memastikan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat telah rampung dan dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat, 19 Juni.

Rupiah Melesat terhadap Dolar AS, Sentimen Domestik jadi Pemicu

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat sore, (12/6/2026). Kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal menopang rupiah.

Mengutip Antara, nilai tukar (kurs) rupiah naik 129 poin atau 0,71% menjadi 17.860 per dolar AS dari sebelumnya 17.989 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat ke level 17.921 per dolar AS dari sebelumnya 17.981 per dolar AS.

“Faktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik. Defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat,” ujar Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede dikutip dari Antara, Jumat pekan ini.

Dia menuturkan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan memberikan bantalan terhadap rupiah.

Selain itu, penguatan data tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi mulai menarik kembali sebagian dana asing, terutama ke SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah.

"Namun, pasar masih menunggu bukti bahwa disiplin fiskal tersebut bisa dipertahankan hingga akhir tahun, terutama karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih besar,” kata Josua.

Di sisi lain, penguatan rupiah juga tertahan kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan masih tingginya ketidakpastian global.

“Berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi AS. Selama dolar AS masih kuat dan harga minyak masih mudah bergejolak, rupiah tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya