Liputan6.com, Jakarta - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan progres program pengangkutan sampah terpilah telah berjalan baik dan sudah lebih dari 90 persen pelanggan tertib memilah sampahnya.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Bantul Fenty Yusdayati mengatakan ada ribuan pelanggan sampah yang tersebar di wilayah Bantul yang dalam proses pengangkutan sampah ditangani oleh petugas dari DLH.
Advertisement
"Ada 38 truk armada pengangkutan sampah dan 114 tenaga kebersihan dioperasikan di 320 titik penjemputan sampah," ujar Fenty di Yogyakarta, melansir Antara, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, dari jumlah tersebut, program pengangkutan yang berjalan sejak 4 Mei 2026 dipastikan berjalan sesuai jadwal.
"Ini jalan dan terus kita evaluasi apakah dengan pengangkutan sampah organik empat hari dan anorganik dua hari ada kendala atau tidak," ucap Fenty.
Dia melanjutkan, jadwal pengangkutan sampah terbagi menjadi dua yakni sampah organik selama empat hari pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat serta sampah anorganik selama dua hari dalam seminggu.
"Pengangkutan sampah anorganik hari Rabu dan Sabtu," kata Fenty.
Pemilahan Sampah yang Dilakukan
Fenty menilai, progres pengangkutan sampah itu telah berjalan lebih dari 90 persen dan para pelanggan juga sudah mulai tertib melakukan pemilahan sampah organik maupun anorganik.
"Jadi deviasinya sudah kecil, (sampah) pasar juga sudah dipilah dari pedagangnya," ucap dia.
Selain itu, lanjut Fenty, pemilahan sampah sudah dilakukan di sekolah, kantor, maupun perumahan yang juga menjadi pelanggan pengangkutan sampah DLH Bantul.
"Tapi untuk sampah di ruang publik memang belum (optimal), seperti taman itu kan banyak penggunanya, progres pemilahan di sana sekitar 65 persen," kata dia.
Menurut Fenty, tantangan pemilahan sampah di ruang publik lebih sulit karena banyaknya mobilitas orang yang masuk maupun keluar.
"Jadi kami hanya bisa mengimbau untuk terus melakukan pemilahan sampah," terang dia.
Fenty menjelaskan keuntungan dari pemilahan sampah akan mempercepat proses pengolahan di hilirnya atau Tempat Pengolahan Sampah (TPS).
"Sampah organik yang diolah diambil oleh komunitas maupun lembaga seperti sekolah adiwiyata untuk pupuk di sekolahnya," kata Fenty.
Dia mencontohkan seperti di TPS Pasar Niten, Kasihan, Bantul yang mengolah sampah organik menjadi pupuk, begitu juga beberapa TPS lainnya.
"Kalau yang pupuk tadi, saat ini masih kami berikan akses gratis semuanya," jelas Fenty.