Liputan6.com, Jakarta: Mantan Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Baharuddin Lopa masuk dalam kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Baharuddin yang masih berstatus sebagai Duta Besar Arab Saudi dan Kesultanan Oman dilantik sebagai Menteri Kehakiman dan HAM menggantikan Yusril Ihza Mahendra, beberapa saat sebelum Presiden Wahid bertolak ke Jawa Timur, Jumat (09/02) pagi.
Janji memang langsung terlontar dari mulut mantan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Departemen Kehakiman di era Orde Baru itu. Bahkan dua hari sebelumnya, pria peraih gelar doktor hukum laut dari Universitas Diponegoro ini berencana menuntaskan beragam kasus, termasuk kasus mantan Presiden Soeharto. Baharuddin yang juga dianggap sebagai saksi kunci Skandal Bulog itu berjanji tak mengecewakan masyarakat yang mencari keadilan. Namun sebelumnya, lelaki kelahiran Sulawesi Selatan ini mengaku terkejut saat Gus Dur memanggilnya pulang ke Tanah Air.
Sosok Baharuddin yang sangat ditakuti pejabat daerah saat berkarir di Kejaksaan Negeri Makassar ini juga mengaku tak gentar memeriksa Presiden Wahid dalam kasus Bulog. Tokoh yang sempat dikabarkan bakal menggeser Marzuki Darusman sebagai Jaksa Agung ini menyatakan bahwa Gus Dur bisa dihukum jika ia tak mencegah penyelewengan dana Yanatera. Tentu saja, kata dia jika Gus Dur mengetahui. Meski demikian, menurut Baharuddin, keterlibatan Gus Dur harus dibuktikan di pengadilan bukan di DPR. "Jika tidak bersalah, nama Gus Dur harus dibersihkan kembali," kata Baharuddin.
Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra menyatakan harapannya agar Baharuddin Lopa dapat melaksanakan tugas dengan baik. Yusril juga mengaku akan kembali aktif mengajar dan memusatkan perhatiannya pada Partai Bulan Bintang.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)
Janji memang langsung terlontar dari mulut mantan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Departemen Kehakiman di era Orde Baru itu. Bahkan dua hari sebelumnya, pria peraih gelar doktor hukum laut dari Universitas Diponegoro ini berencana menuntaskan beragam kasus, termasuk kasus mantan Presiden Soeharto. Baharuddin yang juga dianggap sebagai saksi kunci Skandal Bulog itu berjanji tak mengecewakan masyarakat yang mencari keadilan. Namun sebelumnya, lelaki kelahiran Sulawesi Selatan ini mengaku terkejut saat Gus Dur memanggilnya pulang ke Tanah Air.
Sosok Baharuddin yang sangat ditakuti pejabat daerah saat berkarir di Kejaksaan Negeri Makassar ini juga mengaku tak gentar memeriksa Presiden Wahid dalam kasus Bulog. Tokoh yang sempat dikabarkan bakal menggeser Marzuki Darusman sebagai Jaksa Agung ini menyatakan bahwa Gus Dur bisa dihukum jika ia tak mencegah penyelewengan dana Yanatera. Tentu saja, kata dia jika Gus Dur mengetahui. Meski demikian, menurut Baharuddin, keterlibatan Gus Dur harus dibuktikan di pengadilan bukan di DPR. "Jika tidak bersalah, nama Gus Dur harus dibersihkan kembali," kata Baharuddin.
Sementara itu, Yusril Ihza Mahendra menyatakan harapannya agar Baharuddin Lopa dapat melaksanakan tugas dengan baik. Yusril juga mengaku akan kembali aktif mengajar dan memusatkan perhatiannya pada Partai Bulan Bintang.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)