Liputan6.com, Jakarta - Momen Presiden Prabowo Subianto terlihat menggandeng tangan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, menyorot perhatian publik. Momen itu terjadi setelah upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang digelar di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri.
Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah, menjelaskan hubungan antara Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto tidak hanya didasarkan pada hubungan politik, tetapi juga persahabatan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Advertisement
Menurut Said, hubungan keduanya dapat dilihat dari tiga aspek utama, yakni persahabatan pribadi, kenegarawanan, dan pandangan politik kebangsaan.
"Hubungan Ibu Megawati dan Presiden Prabowo pertama-tama adalah hubungan pertemanan yang sudah terjalin puluhan tahun. Bahkan keduanya pernah berpasangan dalam kontestasi Pemilihan Presiden 2009 sebagai calon presiden dan calon wakil presiden," kata Said dalam keterangannya.
Ia menuturkan, hubungan tersebut tetap terjaga meski keduanya beberapa kali berada di kubu politik yang berbeda dalam sejumlah pemilihan presiden.
"Bahkan saat PDI Perjuangan mencalonkan Pak Jokowi pada Pilpres 2014 dan berkontestasi dengan Pak Prabowo, hubungan dan silaturahmi kedua beliau tetap terjaga dengan baik. Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang sering kali dilihat publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela," ujarnya.
Selain faktor persahabatan, Said menilai hubungan Megawati dan Prabowo juga dibangun di atas landasan kenegarawanan. Ia menyinggung kepercayaan yang tetap diberikan Presiden Prabowo kepada Megawati untuk menjabat Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Meski presiden telah berganti, Presiden Prabowo tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Ibu Mega, meskipun PDI Perjuangan bukan bagian dari pemerintahan. Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan," kata Said.
Punya Banyak Kesamaan Pandangan
Menurut Said, kedua tokoh memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya penguatan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Kedua beliau memiliki pandangan yang sama bahwa lembaga seperti BPIP memang harus dipimpin oleh seorang negarawan. Urusan Pancasila melampaui segala-galanya, dan itulah yang dipedomani oleh kedua beliau. Jadi kemesraan pada peringatan Hari Lahir Pancasila merupakan manifestasi dari hal tersebut," ujarnya.
Said juga menilai hubungan Megawati dan Prabowo dibangun di atas politik kebangsaan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan politik praktis.
"Perbedaan jalan politik, di mana PDI Perjuangan mengambil posisi sebagai partai penyeimbang, tidak dimaknai Presiden Prabowo sebagai musuh. Bahkan dalam pidatonya di DPR pada 20 Mei lalu, Presiden Prabowo menghormati dan mengapresiasi berbagai masukan yang disampaikan kader-kader PDI Perjuangan," katanya.
Ia menambahkan, kedua tokoh telah menunjukkan praktik politik yang melampaui sekadar perebutan kekuasaan.
"Bagi saya, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan," ujar Said.
Menurut Said, fondasi hubungan tersebut menjadi alasan hubungan Megawati dan Prabowo tetap terjaga dengan baik meskipun berada dalam posisi politik yang berbeda.
Ia juga menilai keteladanan tersebut tercermin dalam hubungan Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi Gerindra di DPR.
"Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi dan bertukar pandangan dalam membahas kebijakan maupun program pemerintah. Meskipun dalam beberapa hal terdapat perbedaan pandangan, keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik yang bisa terus bersinergi," kata Said.