Liputan6.com, Jakarta - Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf mengaku belum puas dengan layanan haji di Mina tahun ini.
"Jujur untuk Mina kemarin saya jauh dari puas, sehingga tahun depan harus kita cermati lagi bagaimana pergerakan di Mina," kata dia pada tim Media Center Haji di Makkah, Minggu, 31 Mei 2026.
Advertisement
Menurut Irfan, Mina masih menjadi salah satu titik paling menantang dalam penyelenggaraan ibadah haji karena keterbatasan kapasitas kawasan tersebut. Di sisi lain, jumlah jemaah yang datang setiap tahun terus bertambah.
Dia menegaskan, evaluasi akan difokuskan pada pola mobilitas jemaah selama berada di Mina agar layanan dapat berjalan lebih baik dan risiko kepadatan bisa diminimalkan.
Selain persoalan Mina, Irfan juga menyoroti aspek kesehatan jemaah. Meski angka kematian jemaah haji Indonesia tahun ini turun hampir separuh dibandingkan tahun sebelumnya, pemerintah belum menganggap capaian tersebut ideal.
Ia menyebut, masih terdapat jemaah yang harus menjalani perawatan di rumah sakit sesaat setelah tiba di Arab Saudi. Kondisi itu menunjukkan penerapan standar istithaah kesehatan masih perlu diperkuat.
Bukan soal Usia
Irfan menegaskan pemerintah tidak menjadikan usia sebagai tolok ukur utama dalam menentukan kelayakan berhaji. Menurut dia, kondisi kesehatan jauh lebih penting dibanding faktor usia.
Ia mencontohkan, tahun ini terdapat jemaah berusia lebih dari 100 tahun yang tetap dapat berangkat karena memenuhi syarat kesehatan.
"Yang penting sehat, layak untuk berangkat," ungkap dia.
Karena itu, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mendorong pembinaan kesehatan calon jemaah dilakukan lebih dini. Sejumlah daerah bahkan telah memulai pendampingan terhadap calon jemaah yang diperkirakan berangkat pada musim haji berikutnya.
Irfan meminta materi istithaah kesehatan mendapat porsi lebih besar dalam manasik haji agar calon jemaah memiliki kesiapan fisik yang lebih baik saat berada di Tanah Suci.