Dua Sektor Bisnis Ini Bisa Buat Ekonomi RI Bertahan

Indonesia diperkirakan masih harus menghadapi persoalan defisit neraca transaksi berjalan.

oleh Ilyas Istianur Praditya diperbarui 18 Nov 2013, 19:36 WIB
Kalangan perbankan berharap penerbitan paket kebijakan ekonomi baru yang sedang digodok pemerintah harus mempertimbangkan upaya mendukung perkembangan sektor manufaktur. Fokus tersebut tak menghilangkan pekerjaan pemerintah mengatasi defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit).

Citi Country Officer Indonesia, Tigor M Siahaan di Jakarta, Senin (18/11/2013) mengakui, transaksi berjalan yang masih defisit memang memerlukan dukungan dari peningkatan kinerja ekspor. Terlebih kondisi ekonomi dunia saat ini diliputi penurunan harga komoditas.

"Namun secara medium to long term, yang perlu kebijakan-kebijakan lebih mendukung lagi untuk sektor manufaktur," ungkapnya.

Menurut Tigor, sektor konsumer diperkirakan dapat meningkatkan laju ekspor Indonesia. Hal ini bisa terwujud jika eksportir bisa meningkatkan nilai tambah dari mayoritas barang mentah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi.

"Untuk efisiensi kita bisa dapat membuat bukan hanya eksportir dari komoditi tapi juga sebagai value added, entah itu dari manufaktur atau nilai tambah komoditi tersebut," jelasnya.

Dengan defisit transaksi berjalan yang masih berkurang, ketahanan ekonomi terutama pertumbuhan perekonomian Indonesia masih terus berkembang.

Sekadar informasi, pemerintah akhirnya merilis paket kebijakan ekonomi kedua yang bakal lebih merangkul pelaku usaha lokal dalam negeri menjalani bisnisnya, termasuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Wakil Presiden Boediono mengatakan, Paket Kebijakan Meningkatkan Kemudahan Berusaha akan mulai diimplementasikan paling lambat Februari 2014. Paket ini diharapkan memberikan kemudahan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang ingin memulai kegiatan usaha dengan proses lebih cepat dan mudah. (Yas/Shd)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya