Sekutu Nyaris Bertekuk Lutut, Bung Karno `Menyelamatkan`

Pamflet itu menyatakan, Sekutu akan menegakkan keamanan dan ketertiban. Hanya tentara Sekutu yang boleh membawa senjata.

oleh Liputan6 diperbarui 09 Nov 2013, 10:14 WIB

Sabtu, 27 Oktober 1945. Menjelang siang, sebuah pesawat militer menjatuhkan ribuan pamflet di atas Surabaya. Isi pamflet itu: Sekutu akan menegakkan keamanan dan ketertiban. Hanya tentara Sekutu yang boleh membawa senjata. Jika ada pihak lain yang membawa senjata, bakal ditembak.

Pamflet itu diteken Mayjen. D.C. Hawthorn, Panglima Sekutu untuk wilayah Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Pamflet serupa juga disebar di Jakarta, Bandung, dan Semarang. Tapi, ditanggapi dingin-dingin saja.

Di Surabaya, lain cerita. Mereka sangat curiga Belanda memanfaatkan kedatangan Sekutu untuk kembali menjajah dan menumbangkan Republik Indonesia yang masih bayi.

Seluruh senjata diminta diserahkan dalam tempo 48 jam. Namun, selepas magrib, pertempuran telah pecah di berbagai sudut kota.

Brigade ke-49 India, yang mewakili Sekutu di Surabaya dan dipimpin Brigjen AWS Mallaby, berjumlah 6.000 orang. Harap diingat, pada tahun itu, India masih bagian dari Inggris. Hampir seluruh anggota brigade itu adalah kaum Gurkha.

Mereka berhadapan dengan sekitar 30 ribu anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan puluhan ribu rakyat sipil bersenjata. Selain unggul dalam jumlah personel, pihak Republik juga memiliki 12 tank dan beberapa meriam. Semua hasil rampasan dari Jepang. Pun, dukungan total dari seluruh rakyat tanpa mengenal usia.

Hal lain, pihak Republik sukses memutus pasokan listrik dan air bersih ke pasukan Sekutu. Mereka mati kutu. Di tengah-tengah situasi itu, Sekutu meminta bantuan pimpinan tertinggi Republik.

Foto dok. Liputan6.com


Pada 29 Oktober pagi, sebuah pesawat Angkatan Udara Inggris mendarat di lapangan udara Morokrembangan, Surabaya. Pesawat itu membawa Bung Karno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, dan sejumlah perwira Inggris.

Untuk beberapa jam, trio pemimpin itu berada di markas tentara Inggris. Akhirnya disepakati gencatan senjata.

"Mereka memberikan kepadaku sebuah jip dan mulailah aku menenteramkan keadaan...Aku berkeliling ke seluruh penjuru di mana saja pahlawan-pahlawan muda kami berada..." kata Bung Karno dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat.

Dalam perjalanan, konvoi dihentikan. Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), berdiri di tengah jalan. Ratusan anak buahnya mengepung dengan senjata di tangan. Bung Karno keluar dari mobil.

"Bung, kenapa pertempuran kita hentikan? Inggris sebentar lagi akan kita kalahkan," kata Soemarsono seperti dicatat Hersutejo dalam Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya 1945 yang Dilupakan.

Bung Karno bersikap tenang dan meminta Amir Sjarifuddin keluar. Soemarsono, yang merupakan kader Amir di Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), tak menyangka patronnya ikut dalam rombongan.

Amir berujar, "Hal ini sudah didiskusikan dengan kawan-kawan di Jakarta. We have to win the war, not the battle."

Meski kecewa, Soemarsono patuh. Ia mengantar rombongan ke RRI Surabaya. Melalui corong radio, Bung Karno menyerukan seluruh rakyat Surabaya untuk meletakkan senjata. Ditegaskan, Republik tak memusuhi Sekutu yang datang untuk melucuti militer Jepang yang baru takluk di Perang Dunia II.

Foto dok. Liputan6.com


Keesokan harinya, perundingan digelar. Sekutu diwakili Mallaby dan Hawthorn. Pamflet yang disebar 27 Oktober menjadi sumber perdebatan sengit. Akhirnya, Hawthorn menyatakan pamflet itu ditarik.

Setelah beberapa perjanjian disepakati, pada 30 Oktober siang, para pemimpin Republik kembali ke Jakarta. Tapi, suasana tenang hanya bertahan beberapa jam.

Pada malam harinya, sebuah insiden menewaskan Mallaby. Sekutu benar-benar marah. Inilah yang mengantarkan kedua pihak dalam pertempuran besar-besaran sejak 10 November dan beberapa hari setelahnya. (Yus)

[baca juga: Bung Tomo, Radio Pemberontakan, dan Teriakan `Allahu Akbar`]


Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya