Liputan6.com, Brussels - Lima negara anggota Uni Eropa (UE) yang dipimpin Prancis mendesak Brussel untuk lebih agresif menggunakan tarif dan berbagai langkah perlindungan perdagangan guna menghadapi praktik dagang yang dinilai merugikan, terutama dari China.
Dalam dokumen bersama yang diperoleh Politico, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, dan Lithuania meminta Komisi Eropa lebih sering membuka investigasi terhadap praktik perdagangan tidak adil. Dokumen tersebut juga mengusulkan pembentukan instrumen perdagangan baru yang lebih defensif.
Advertisement
Dokumen itu dibagikan kepada Komisi Eropa dan negara-negara anggota UE lainnya pada Jumat (23/5/2026), di tengah upaya Brussel menyusun kebijakan pertahanan perdagangan yang disebut lebih tegas dan efektif dalam menghadapi Beijing. Uni Eropa dijadwalkan menggelar pembahasan strategi internal terkait ancaman persaingan dari China pada pekan depan.
Meski tidak secara langsung menyebut China, dokumen tersebut menyinggung adanya “mitra dagang utama UE” yang dinilai melanggar aturan perdagangan multilateral dengan menciptakan hambatan perdagangan baru dan memicu kelebihan kapasitas industri secara sistemik.
Kelima negara itu meminta Komisi Eropa untuk lebih sering mempertimbangkan investigasi pengamanan lintas sektor jika terjadi gangguan perdagangan. Mereka juga mendesak UE agar lebih proaktif membawa dugaan pelanggaran aturan perdagangan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta menambah sumber daya manusia pada unit investigasi perdagangan.
Selain itu, mereka mengusulkan agar aspek “keamanan ekonomi” dimasukkan sebagai salah satu pertimbangan utama dalam memutuskan pembukaan investigasi pertahanan perdagangan yang dapat berujung pada penerapan tarif maupun sanksi dagang lainnya.
Menurut dokumen tersebut, pendekatan itu dinilai penting untuk menjaga kapasitas produksi dan rantai pasok strategis Uni Eropa, sekaligus melindungi basis industri kawasan.
Usulan Perubahan Teknis
Kelompok negara tersebut juga mengusulkan sejumlah perubahan teknis pada regulasi yang ada agar perusahaan asing tidak dapat menghindari investigasi perdagangan UE. Mereka turut mendorong agar Komisi Eropa diberi kewenangan menerapkan bea anti-subsidi langsung kepada perusahaan, bukan hanya kepada negara dan produk seperti aturan saat ini.
Proposal lain mencakup pembentukan “alat ketahanan” berupa instrumen pertahanan perdagangan lintas sektor yang dapat digunakan ketika mekanisme perlindungan lain tidak bisa diterapkan. Mereka juga mengusulkan penerapan tarif tambahan atau kuota tarif guna melindungi produsen Eropa.
Pada hari yang sama, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan Uni Eropa untuk mencontoh langkah Amerika Serikat dalam melindungi industri strategis melalui kebijakan perdagangan.
Macron juga menempatkan upaya mengatasi “ketidakseimbangan global”, termasuk membanjirnya ekspor China ke pasar dunia, sebagai salah satu agenda utama menjelang KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, pada 15 Juni mendatang.