Alasan di Balik Serangan Israel terhadap Pertanian Lebanon

Menargetkan sektor pertanian Lebanon dinilai sama dengan serangan langsung terhadap ketahanan masyarakatnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 26 Mei 2026, 21:32 WIB
Para pekerja pertahanan sipil Lebanon menyisir reruntuhan, sehari setelah serangan Israel di desa Deir Qanun al-Nahr, Lebanon Selatan, pada Rabu 20 Mei 2026. (KAWNAT HAJU/AFP)

Liputan6.com, Beirut - Lebanon Selatan dan Lembah Bekaa merupakan tulang punggung sektor pertanian di Lebanon. Wilayah tersebut mencakup lebih dari 65 persen dari total lahan pertanian Lebanon dan menjadi penopang kehidupan masyarakat pedesaan di negara itu.   

Masyarakat setempat sangat bergantung pada kebun zaitun, budi daya tembakau, peternakan, usaha unggas, serta panen musiman sebagai sumber pendapatan dan ketahanan pangan. Bagi banyak desa di Lebanon, bertani bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bagian utama dari identitas masyarakat setempat. 

Sejak Oktober 2023, laporan dari pemerintah kota setempat, organisasi kemanusiaan, jurnalis, dan lembaga internasional mendokumentasikan berulang kali penghancuran lahan pertanian, fasilitas peternakan, sistem irigasi, dan infrastruktur pertanian oleh Israel, yang mengancam keberlangsungan komunitas petani.

Mengutip laporan Al Mayadeen, sekitar sepertiga wilayah Selatan dan Lembah Bekaa kini menjadi lahan pertanian yang tidak dapat diakses karena tercemar fosfor putih dan logam berat, dengan dampak kerusakan yang diperkirakan akan berlangsung selama beberapa dekade mendatang.

Kebun zaitun dan ladang tembakau terbakar, para petani tidak dapat mengakses lahan mereka akibat pengeboman yang terus berlangsung, sementara produksi peternakan terganggu parah akibat serangan terhadap kandang ternak dan fasilitas peternakan unggas. 

Penghancuran sistem pertanian selama perang membawa dampak yang jauh melampaui kerugian material. Kerusakan produksi pangan melemahkan ketahanan pangan lokal, memperburuk ekonomi pedesaan, mempercepat pengungsian, dan mengancam keberlanjutan jangka panjang kehidupan sipil di wilayah terdampak perang.

Selain kerusakan fisik secara langsung, serangan Israel menciptakan konsekuensi ekonomi dan lingkungan jangka panjang bagi komunitas yang sebelumnya sudah menghadapi ketidakstabilan finansial akibat krisis ekonomi Lebanon yang berkepanjangan. Ketika produksi domestik menurun, harga pangan semakin naik dan ketergantungan terhadap impor pangan meningkat, sehingga memperparah biaya hidup masyarakat.

Strategi Bumi Hangus Israel

Menurut laporan terbaru yang diterbitkan Kementerian Pertanian Lebanon, sekitar 56.264 hektare lahan pertanian di Lebanon rusak akibat agresi Israel. Di wilayah Selatan, sebanyak 18.559 hektare mengalami kerusakan, atau setara 22,5 persen dari total lahan yang terdampak.

Kerusakan akibat pengeboman dan penembakan Israel, menurut laporan tersebut, memengaruhi 64 kota di Lebanon Selatan. Petani kecil menjadi pihak yang paling terdampak, dengan kepemilikan lahan skala kecil mencapai hampir 80 persen dari total properti pertanian di wilayah Selatan. Sebanyak 77,9 persen petani di Lebanon Selatan masih mengungsi dari tanah mereka akibat ancaman Israel.

Abdallah Nassereddine, mantan penasihat menteri pertanian Lebanon, menjelaskan kepada Al Mayadeen mengenai tujuan sebenarnya dari serangan Israel terhadap sektor pertanian.

"Sejak hari pertama agresi, Israel telah menerapkan kebijakan bumi hangus dengan menargetkan hutan dan tanaman pertanian di lebih dari 55 kota di wilayah Selatan menggunakan peluru fosfor yang dilarang secara internasional," ujarnya. "Pemerintahan pendudukan membenarkan serangan ini dengan mengklaim bahwa kelompok perlawanan menggunakan tutupan vegetasi dan hutan yang membentang dari al-Labbouneh di barat hingga Shebaa Farms di timur untuk menjalankan operasi." 

Namun, menurut Nassereddine, tujuan sebenarnya melampaui dimensi militer langsung dan menyasar fondasi ketahanan ekonomi serta sosial masyarakat Lebanon Selatan. Pertanian bukan sekadar sektor produksi, melainkan sumber pendapatan utama bagi puluhan ribu keluarga dan simbol keterikatan masyarakat terhadap tanah mereka. Karena itu, penargetan sektor pertanian bertujuan untuk:

  • Mengeringkan sumber pendapatan dan merampas mata pencaharian utama para petani.
  • Memaksa penduduk mengungsi dan menghambat kepulangan mereka.
  • Menghancurkan lingkungan pertanian dan melemahkan kapasitas produksi selama bertahun-tahun.
  • Menimbulkan kerugian ekonomi besar pada pasar lokal dan rantai pasokan.

"Dengan kata lain, penargetan pertanian adalah serangan langsung terhadap ketahanan masyarakat Lebanon Selatan dan hak mereka untuk tetap tinggal di tanah mereka," terang Nassereddine.

 

Seluruh Sumber Kehidupan Ikut Diserang

Asap mengepul setelah ledakan di Lebanon selatan dekat perbatasan seperti terlihat dari Upper Galilee, Israel Utara pada Senin 27 April 2026. (Jalaa MAREY/AFP)

Laporan Kementerian Pertanian Lebanon mencatat bahwa lebih dari 1.848.856 ayam, domba, kambing, dan sapi mati, lebih dari 29.000 sarang lebah hancur, serta sekitar 2.030 ton ikan hilang dalam sektor akuakultur.

Nassereddine mengatakan penargetan peternakan dan pabrik pakan ternak di Lebanon Selatan merupakan bagian dari strategi sistematis yang bertujuan menghancurkan fondasi kehidupan di wilayah tersebut.

"Pendudukan Israel memahami bahwa pertanian memainkan peran sentral dalam menjamin pasokan pangan dan menopang komunitas lokal," bebernya

Ia menjelaskan bahwa produksi peternakan menyediakan sumber pendapatan stabil bagi ribuan keluarga, sementara ketersediaan pakan sangat penting untuk mempertahankan produksi hewan ternak. Menurutnya, serangan terhadap fasilitas-fasilitas ini dirancang untuk menghilangkan swasembada lokal dan menguras keuangan para petani yang sudah berjuang di tengah dampak perang dan pengungsian.

Ia menambahkan bahwa penghancuran peternakan dan infrastruktur pertanian dimaksudkan untuk mencegah pemulihan cepat aktivitas pertanian dan menciptakan kondisi ekonomi yang menghalangi warga yang mengungsi untuk kembali ke desa mereka.

"Tujuan akhirnya adalah mengubah tanah itu menjadi wilayah yang tidak layak dihuni," tutur Nassereddine.

Agresi Sistematis terhadap Mata Pencaharian Petani

Kementerian Pertanian Lebanon memperkirakan agresi Israel telah menyebabkan kerusakan besar terhadap pohon-pohon buah di Lebanon Selatan, khususnya kebun zaitun, sejak awal agresi berlangsung.

Menurut kementerian tersebut, sekitar 6.600 hektare pohon zaitun dan 11.075 hektare pohon buah lainnya rusak sejak awal agresi. Kerusakan itu mencakup lebih dari 50.000 pohon zaitun berusia ratusan tahun, yang menyebabkan penurunan tajam produksi minyak zaitun dan berdampak negatif terhadap petani, penggilingan zaitun, pedagang, serta pasar lokal maupun internasional.

Nassereddine mengungkapkan bahwa ribuan hektare hutan dan kebun di al-Labbouneh, Alma al-Shaab, Bint Jbeil, Mays al-Jabal, Khiam, al-Taybeh, Marjayoun, dan Hasbaya dibakar dan dihancurkan. Ia mencatat bahwa wilayah-wilayah tersebut termasuk pusat pertanian paling penting di Lebanon, yang menyumbang lebih dari 20 persen produksi pertanian nasional, terutama untuk zaitun dan minyak zaitun, buah sitrus, tembakau, serta sayuran musiman.

Ia menyoroti pula dampak pengungsian paksa, dengan mengatakan ribuan petani dipaksa meninggalkan lahan mereka sehingga aktivitas panen, irigasi, pemangkasan, dan pemeliharaan terhenti. Menurutnya, hal itu memperdalam kerugian bahkan di wilayah yang tidak terkena serangan langsung.

Konsekuensi ekonomi, lanjutnya, meluas tidak hanya kepada petani tetapi juga pedagang, eksportir, penggilingan zaitun, pabrik pengemasan, sektor transportasi dan penyimpanan, serta pekerja musiman di bidang pertanian.

"Akibatnya, agresi tidak hanya menargetkan petani, tetapi seluruh rantai produksi dan pemasaran pertanian," kata Nassereddine.

Rehabilitasi lahan pertanian yang rusak, ujarnya, dapat memakan waktu mulai dari satu musim tanam hingga beberapa tahun, sementara pemulihan pohon buah diperkirakan memerlukan waktu jauh lebih lama karena banyak pohon membutuhkan bertahun-tahun sebelum kembali produktif sepenuhnya.

 

Krisis Ketahanan Pangan Akut

Foto menunjukkan pemandangan tenda-tenda biru yang didirikan oleh pemerintah Lebanon untuk orang-orang yang mengungsi dari rumah dan desa mereka di pinggiran selatan Beirut dan Lebanon Selatan, Jumat 22 Mei 2026. (Anwar AMRO/AFP)

Analisis terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis Kementerian Pertanian Lebanon bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) serta Program Pangan Dunia (WFP) menyebut Lebanon menghadapi krisis ketahanan pangan baru setelah kondisi yang sempat membaik selama beberapa bulan terakhir memburuk akibat eskalasi Israel yang terus berlangsung, krisis ekonomi, dan gelombang pengungsian.

Laporan tersebut menggambarkan situasi serius di Lebanon yang semakin terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan. Sebanyak 1,24 juta orang, atau hampir seperempat populasi yang dianalisis, diperkirakan akan mengalami kerawanan pangan akut pada periode April hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut masuk dalam kategori Krisis (IPC Fase 3) atau bahkan lebih parah.

Jumlah tersebut menunjukkan kemunduran drastis dibandingkan penilaian sebelumnya untuk periode November 2025 hingga Maret 2026. Pada periode itu, sekitar 874.000 orang, atau 17 persen dari populasi yang dianalisis, tercatat mengalami kerawanan pangan akut.

Memburuknya kondisi tersebut mencerminkan dampak kumulatif agresi Israel terhadap Lebanon, pengungsian massal, inflasi, gangguan pertanian, dan menyusutnya bantuan kemanusiaan yang secara bersamaan meningkatkan tekanan terhadap rumah tangga yang telah berjuang selama bertahun-tahun akibat keruntuhan ekonomi.

Lembaga-lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa kemerosotan terbaru ini menegaskan betapa rentannya sistem pangan Lebanon terhadap guncangan politik dan militer.

"Kerapuhan yang kami peringatkan dalam analisis IPC sebelumnya sayangnya terbukti benar," kata Allison Oman Lawi, perwakilan dan direktur negara WFP di Lebanon.

"Pencapaian yang diraih dengan susah payah dengan cepat hancur. Keluarga yang sebelumnya masih mampu bertahan kini kembali terdorong ke dalam krisis ketika konflik, pengungsian, dan kenaikan biaya hidup bertabrakan, membuat pangan semakin tidak terjangkau," tambahnya.

Perwakilan FAO di Lebanon, Nora Ourabah Haddad, juga memperingatkan bahwa krisis tersebut menunjukkan kerapuhan yang terus berlanjut dan semakin parah pada sistem pedesaan dan pangan-pertanian. Ia menegaskan bahwa berbagai guncangan yang terjadi secara bersamaan telah merusak mata pencaharian pertanian dan memperburuk kerawanan pangan.

Menteri Pertanian Lebanon Nizar Hani mengatakan hasil analisis tersebut menunjukkan betapa seriusnya situasi saat ini, ketika perang dan tekanan ekonomi bersatu menempatkan ketahanan pangan nasional dalam risiko kritis.

"Kami menegaskan kembali komitmen kami untuk mengadopsi pendekatan berkelanjutan berbasis sains yang tidak hanya memantau krisis, tetapi juga meresponsnya melalui kebijakan dan program berkelanjutan yang memperkuat ketahanan sektor pertanian dan melindungi mata pencaharian petani," kata Hani.

Ia juga menyerukan pendekatan internasional yang lebih proaktif terhadap krisis tersebut, sambil menekankan bahwa menjaga ketahanan pangan di Lebanon merupakan tanggung jawab nasional sekaligus internasional.

 

Situasi menjadi semakin mendesak ketika musim tanam musim semi hampir berakhir, memunculkan kekhawatiran bahwa kegagalan memanfaatkan masa tanam dapat memicu kerugian produksi tambahan dan memperdalam kebutuhan kemanusiaan pada tahun ini.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya