Liputan6.com, Jakarta - Di antara rimbunnya mangrove yang menjaga pesisir Belitung Timur, tersimpan potensi yang dapat menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Ekosistem ini bukan hanya benteng alami yang melindungi kawasan pesisir, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan secara bijaksana.
Melalui kolaborasi dengan Koalisi Pegiat Lingkungan Pulau Belitong (KPLPB) dan PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES), masyarakat didorong untuk mengenali dan mengoptimalkan potensi tersebut melalui program Peningkatan Pendapatan Masyarakat Pesisir Belitung Timur, salah satunya melalui usaha penggemukan kepiting bakau.
Advertisement
Upaya tersebut diwujudkan melalui Bimbingan Teknis Usaha Pemanfaatan Kawasan Perhutanan Sosial bertema “Optimalisasi Potensi Pemanfaatan Kawasan Pesisir Belitung Timur melalui Kelompok Perhutanan Sosial (KPS)” dengan subtema “Usaha Penggemukan Kepiting Bakau Berbasis Pemberdayaan Komunitas”.
Kegiatan berlangsung di Guest Hotel, Kecamatan Manggar, Belitung Timur, Selasa (6/10), dan diikuti 15 kelompok perhutanan sosial yang memiliki area kelola mangrove di Belitung Timur.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi kelompok perhutanan sosial untuk memperluas pengetahuan, bertukar pengalaman, dan menemukan peluang usaha yang sesuai dengan karakteristik kawasan kelola masing-masing.
Melalui pembekalan teknis dan pembelajaran dari praktik yang telah berjalan, peserta diperkenalkan pada usaha penggemukan kepiting bakau sebagai salah satu alternatif kegiatan ekonomi yang berpotensi mendukung pendapatan masyarakat, dengan tetap menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.
Ketua KPLPB, Teblyandi, menyampaikan bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Menurutnya, kawasan mangrove memiliki nilai yang lebih luas ketika dikelola secara tepat, tidak hanya bagi keberlangsungan ekosistem, tetapi juga bagi kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
“Potensi kawasan mangrove dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat, tentunya dengan tetap memperhatikan aturan dan keberlanjutan lingkungan. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi pengalaman sekaligus membuka wawasan kelompok perhutanan sosial mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari kawasan kelola mereka,” kata Teblyandi.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (UPTD KPHP) Gunung Duren, yang berperan dalam pembinaan dan fasilitasi teknis pengelolaan kawasan perhutanan sosial.
Kegiatan dibuka oleh Kepala KPHP Gunung Duren, Jookie Vebriansyah. Selanjutnya, Dedy Ilhamsyah, Kepala KPHP Belantu Mendanau yang juga seorang tokoh penggerak perhutanan sosial nasional, menyampaikan materi mengenai tata kelola kawasan serta upaya mengoptimalkan potensi yang tersedia di masing-masing area kelola.
Para peserta juga memperoleh pemahaman mengenai ketentuan pemanfaatan kawasan perhutanan sosial, termasuk peluang pengembangan usaha penggemukan kepiting bakau di kawasan mangrove melalui pendekatan silvofishery. Materi teknis dilanjutkan oleh Kepala Bagian PUKPPI Dinas Perikanan Kabupaten Belitung Timur, Tatan, yang menjelaskan metode pengembangan usaha kepiting bakau, antara lain melalui sistem keramba tancap dan sistem apartemen.
Tidak hanya melalui pemaparan materi, pembelajaran juga hadir dari pengalaman nyata masyarakat. Kelompok Tani Hutan (KTH) Selanduk Permai, kelompok binaan PHE OSES yang didampingi melalui kolaborasi dengan KPLPB, menjadi salah satu contoh bagaimana potensi kawasan pesisir dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha produktif.
Dalam sesi berbagi pengalaman, perwakilan KTH Selanduk Permai menceritakan proses menjalankan usaha penggemukan kepiting bakau, mulai dari metode pemeliharaan dan proses produksi hingga peluang pengembangan serta tantangan yang dihadapi. Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata bahwa pengembangan usaha membutuhkan lebih dari sekadar potensi alam. Pengetahuan teknis, ketekunan, dan pengelolaan yang tepat menjadi bagian penting dalam membangun usaha yang dapat bertahan dan berkembang.
Hingga saat ini, KTH Selanduk Permai telah melaksanakan dua kali panen pilih dengan kapasitas mencapai sekitar 70 kilogram dalam satu periode penggemukan selama dua hingga tiga bulan. Capaian ini menjadi pengalaman berharga yang dapat dipelajari kelompok perhutanan sosial lainnya dalam menjajaki peluang usaha berbasis potensi pesisir. Lebih dari angka produksi, pengalaman tersebut menunjukkan adanya ruang untuk mengembangkan kegiatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya secara terarah dan bertanggung jawab.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan melalui partisipasi dan pertukaran pengalaman antarkelompok. Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan teknis sekaligus belajar langsung dari kelompok yang telah menjalankan usaha memberikan perspektif baru mengenai peluang pengembangan ekonomi di kawasan kelola mereka. Para peserta berharap kegiatan peningkatan kapasitas dan pendampingan serupa dapat terus dilakukan sehingga semakin banyak kelompok memiliki bekal untuk mengembangkan usaha sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.
“Melalui kolaborasi dengan KPLPB, PHE OSES berupaya mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir yang tidak berhenti pada dukungan usaha, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan potensi lokal,” ujar Danya Dewanti, Head of Communication Relations & CID PHE OSES.