Harga Minyak Anjlok Setelah Komentar Trump soal Negosiasi Iran

Harga minyak WTI dan Brent kompak turun pada Minggu, (24/5/2026). Hal itu didorong negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berjalan.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 25 Mei 2026, 07:28 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak turun lebih dari 4% pada Minggu, 24 Mei 2026 waktu setempat. Koreksi harga minyak terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengindikasikan pembicaraan dengan Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz sedang berjalan maju, meskipun mengatakan AS tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan.

Mengutip Yahoo Finance, Senin, (25/5/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun sekitar 5% menjadi USD 91,65 per barel pada pukul 19.13 waktu ET. Harga minyak Brent berjangka susut sekitar 5% menjadi USD 98,30 per barel.

“Negosiasi berjalan dengan tertib dan konstruktif, dan saya telah memberi tahu perwakilan saya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan karena waktu masih berpihak kepada kita,” kata Trump pada Minggu dalam sebuah unggahan di media sosial.

Trump mengatakan pada Sabtu kesepakatan dengan Iran untuk membuka Hormuz, di antara isu-isu lainnya, sebagian besar telah dinegosiasikan dan akan segera diumumkan. Trump sebelumnya telah mengisyaratkan konflik dengan Iran berada di ambang penyelesaian, namun ketegangan malah meningkat dan harga minyak kembali melonjak.

Harga minyak mentah AS turun lebih dari 8% pekan lalu dan Brent anjlok lebih dari 5%, setelah Trump membatalkan serangan udara yang akan segera dilakukan terhadap Iran untuk memberi waktu lebih banyak bagi negosiasi. Harga telah melonjak lebih dari 30% sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

Iran telah memberlakukan blokade de facto terhadap pengiriman melalui Hormuz sejak awal Maret, yang mengharuskan kapal untuk mendapatkan izinnya untuk lewat atau berisiko diserang. Blokade tersebut diberlakukan setelah serangan udara AS dan Israel menewaskan kepala negara Republik Islam Ayatollah Ali Khamenei dan para pemimpin tinggi lainnya.

Hormuz adalah salah satu titik penting bagi pasar minyak di dunia, dengan sekitar 20% pasokan global melewati jalur laut tersebut sebelum perang. Blokade Iran telah secara dramatis mengurangi ekspor minyak dari Timur Tengah sebagai konsekuensinya, memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

AS telah memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan kapal Iran sebagai tanggapan. Trump mengatakan pada Minggu bahwa blokade AS akan tetap berlaku sepenuhnya hingga kesepakatan tercapai, disahkan, dan ditandatangani.

Harga Minyak Dunia Melemah Pekan Ini, Investor Menanti Kesepakatan AS-Iran

Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Sebelumnya, harga minyak dunia mencatat pelemahan selama pekan ini setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran memberikan sinyal adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar karena kedua pihak belum mencapai kesepakatan penuh terkait sejumlah isu utama.

Mengutip CNBC, Minggu (24/5/2026), harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional naik 96 sen dan ditutup di level USD 103,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 25 sen ke posisi USD 96,60 per barel.

Meski ditutup menguat pada perdagangan terakhir, secara mingguan harga minyak masih berada dalam tren pelemahan. Minyak Brent tercatat turun lebih dari 5 persen sepanjang pekan ini, sedangkan minyak mentah AS terkoreksi lebih dari 8 persen.

Penurunan harga terjadi setelah Presiden Donald Trump pada Senin lalu mengatakan dirinya menunda serangan yang sebelumnya direncanakan terhadap Iran untuk membuka peluang negosiasi lebih lanjut.

Namun, perkembangan menuju kesepakatan tersebut masih belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran pelaku pasar.

 

 

Selat Hormuz Masih Jadi Topik Utama

Di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat sinyal positif bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik mulai terlihat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses menuju perdamaian dapat menemui hambatan apabila Iran tetap berupaya mengendalikan jalur pelayaran di Selat Hormuz secara permanen.

"Terlihat ada tanda-tanda yang baik bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik mulai terlihat," kata Rubio.

Namun dia menambahkan, kesepakatan seperti itu akan menjadi "tidak realistis" jika Iran menerapkan kebijakan yang mengarah pada penguasaan permanen atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Sementara itu, analis dari ING menilai pasar masih berupaya mencari kepastian mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

"Pasar masih mencari tanda-tanda kemajuan dalam potensi kesepakatan antara AS dan Iran. Meskipun ada tanda optimisme, ketidakpastian masih mendominasi," tulis tim strategi ING dalam catatan risetnya.

Mereka menambahkan bahwa kondisi serupa pernah terjadi sebelumnya, ketika kesepakatan terlihat hampir tercapai tetapi akhirnya negosiasi kembali gagal.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya