Trump Sebut Kesepakatan AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Segera Dibuka

Trump mengklaim kesepakatan dengan Iran segera diumumkan. Pembukaan Selat Hormuz dinilai dapat meredakan krisis energi global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 Mei 2026, 21:00 WIB
Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan perdamaian dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagian besar telah selesai dinegosiasikan dan akan segera diumumkan.

Jika terealisasi, langkah tersebut berpotensi mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengganggu pasar energi global dan mendorong kenaikan inflasi di Amerika Serikat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Trump menyampaikan pernyataan itu melalui media sosial setelah melakukan serangkaian komunikasi dengan sejumlah pemimpin negara dari Ruang Oval Gedung Putih.

Ia mengatakan pembicaraan dilakukan bersama para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, Yordania, Bahrain, hingga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Menurut Trump, pembicaraan tersebut difokuskan pada upaya penyelesaian akhir dengan Republik Islam Iran.

“Kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, menunggu tahap finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan beberapa negara lainnya,” kata Trump dikutip dari CNBC, Minggu (24/5/2026).

Trump menambahkan rincian lebih lanjut terkait kesepakatan tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat.

 

Selat Hormuz Jadi Kunci Penting Pasar Energi Dunia

Matahari terbit di balik kapal tanker yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Salah satu poin utama yang menjadi perhatian dalam pembicaraan tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.

Wilayah ini memiliki peran vital dalam perdagangan energi dunia karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas internasional.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tahap awal kesepakatan akan dimulai melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding sebelum pembahasan lanjutan dilakukan dalam waktu 30 hingga 60 hari ke depan.

Namun sejumlah perbedaan pandangan di antara kedua pihak disebut masih belum terselesaikan.

Media Iran, Fars News Agency, melaporkan Selat Hormuz tetap akan berada di bawah pengelolaan Iran berdasarkan naskah terbaru yang dipertukarkan dengan Amerika Serikat.

Laporan tersebut juga menyebut pernyataan Trump mengenai pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan yang hampir selesai dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan situasi sebenarnya.

 

 

Program Nuklir Iran Masih Jadi Ganjalan

Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Trump juga belum menyampaikan rincian mengenai program nuklir Iran maupun stok uranium yang diperkaya dalam kesepakatan tersebut.

Padahal isu itu selama ini menjadi fokus utama pemerintah AS dalam upaya mengakhiri konflik.

Laporan Reuters mengutip sumber senior Iran yang menyebut Teheran belum menyetujui penyerahan stok uranium yang diperkaya.

Sumber tersebut juga mengatakan isu nuklir belum masuk dalam bagian kesepakatan awal dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, laporan Financial Times sebelumnya menyebut kesepakatan potensial tersebut dapat mencakup kerangka pembicaraan nuklir, pelonggaran sanksi terhadap Iran, hingga pembukaan kembali akses aset Iran di luar negeri yang selama ini dibekukan.

Di sisi lain, proses pengumuman kesepakatan kemungkinan tertunda setelah terdengar suara tembakan di dekat Gedung Putih yang memicu penguncian area keamanan.

 

Konflik Berdampak ke Harga Energi dan Inflasi

Seperti diketahui, lonjakan harga minyak tidak lepas dari kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah menciptakan dampak luas terhadap ekonomi global.

Sejak gencatan senjata rapuh diberlakukan pada 8 April lalu, ketegangan masih beberapa kali muncul terutama terkait perebutan pengaruh di Selat Hormuz.

Negara-negara Teluk menyebut situasi ini sebagai salah satu krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Lonjakan harga energi di AS juga dinilai ikut memperburuk inflasi serta memunculkan spekulasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga.

Laporan Financial Times menyebut negosiator Pakistan dan Qatar telah menggelar pembicaraan dengan Iran pada Kamis dan Jumat lalu sambil terus berkomunikasi dengan utusan AS Steve Witkoff.

Meski demikian, negosiator utama Iran menegaskan negaranya tidak akan mengorbankan "hak-hak yang sah" dan masih menyimpan keraguan terhadap Amerika Serikat.

 

Negara Timur Tengah Dorong Perdamaian

Di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan posisi kedua negara saat ini masih berada dalam situasi yang "sangat jauh sekaligus sangat dekat" terhadap tercapainya kesepakatan.

Menurut Iran, Amerika Serikat beberapa kali menunjukkan sikap yang berubah-ubah selama proses negosiasi berlangsung.

Trump sebelumnya juga mengatakan pemerintah AS menunda serangan baru terhadap Iran karena "negosiasi serius" sedang berlangsung.

Sejumlah negara di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA juga mendorong penghentian operasi militer karena khawatir terhadap potensi serangan balasan Iran dan dampak yang lebih besar terhadap pasar energi global.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyambut baik komunikasi yang dilakukan Trump dengan para pemimpin regional.

"Diskusi tersebut menjadi kesempatan yang bermanfaat untuk bertukar pandangan mengenai situasi kawasan saat ini dan bagaimana mendorong upaya perdamaian yang sedang berjalan demi menciptakan perdamaian jangka panjang di kawasan," ujarnya.

Sementara itu, kantor Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan negaranya siap memberikan dukungan penuh apabila kesepakatan dengan Iran berhasil diwujudkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya