Empat Saham RI Keluar dari FTSE Russell, Asing Bakal Makin Selektif

Empat saham RI termasuk DSSA dan DAAZ didepak dari indeks FTSE Russell. Pengamat ingatkan potensi tekanan outflow dari dana asing institusi.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 23 Mei 2026, 14:00 WIB
Seorang juru kamera merekam layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Penyedia indeks global FTSE Russell mengeluarkan empat saham emiten Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series dalam June 2026 Quarterly Review.

Empat saham yang dikeluarkan itu antara lain saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dalam kategori large cap atau kapitalisasi besar.

FTSE juga mengeluarkan tiga saham dalam perhitungan kategori micro cap antara lain PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).

Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai, keputusan FTSE Russell ini berdampak pada sentimen dan persepsi investor asing terhadap kualitas pasar modal Indonesia, khususnya terkait free float dan likuiditas saham.

"Menurut saya dampaknya lebih ke sentimen dan persepsi investor asing terhadap kualitas market Indonesia, terutama terkait free float dan likuiditas saham," kata Elandry kepada Liputan6.com, Sabtu (23/5/2026).

Untuk IHSG secara keseluruhan dampaknya relatif terbatas, namun saham seperti DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA berpotensi terkena tekanan outflow dari passive fund.

Lebih lanjut, Elandry mengatakan pengaruh keputusan FTSE terhadap investor tetap ada, terutama bagi investor asing institusi karena indeks FTSE menjadi acuan banyak dana global.

Menurutnya, kondisi ini membuat investor asing kemungkinan akan semakin selektif dalam memilih saham di Indonesia. Saham dengan free float besar, likuiditas tinggi, dan tata kelola perusahaan yang kuat diperkirakan akan lebih diminati.

"Pengaruh ke investor tentu ada, khususnya investor asing institusi karena FTSE jadi acuan banyak fund global. Jadi asing kemungkinan akan makin selektif masuk ke saham dengan free float besar, likuiditas bagus, dan governance yang kuat," ujarnya.

 

Pasar Saham Masih Berpotensi Volatile

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menguat hampir lima persen lebih tinggi pada pembukaan 10 April 2025. (BAY ISMOYO/AFP)

Lebih lanjut, Elandry memproyeksikan pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih akan bergerak volatile. Hal itu dipicu meningkatnya kekhawatiran investor asing terhadap kondisi pasar domestik.

Meski demikian, ia menilai situasi ini juga dapat menjadi momentum pembenahan pasar modal Indonesia agar kualitas pasar dan kepercayaan investor global dapat meningkat ke depan.

"Prospek pasar saham menurut saya jangka pendek masih volatile karena menambah kekhawatiran asing terhadap market Indonesia. Tapi ini juga bisa jadi momentum pembenahan pasar modal agar kualitas dan kepercayaan investor global membaik ke depan," pungkasnya.

 

FTSE Keluarkan Empat Saham Indonesia dari Indeks Global Equity

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Untuk diketahui, penyedia indeks global Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell mengeluarkan empat saham emiten Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series pada June 2026 Quaterly Review.  Perubahan tinjauan triwulanan oleh FTSE ini akan berlaku efektif pada Senin, 22 Juni 2026 (setelah penutupan perdagangan pada Jumat, 19 Juni 2026).

Empat saham yang dikeluarkan itu antara lain saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dalam kategori large cap atau kapitalisasi besar. FTSE juga mengeluarkan tiga saham dalam perhitungan kategori micro cap antara lain PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).

Adapun FTSE mengeluarkan saham DSSA seiring masuk dalam saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

Sebelumnya FTSE mengumumkan dalam Index Treatment for the June 2026 Index Review yang dirilis Rabu 13 Mei 2026 yang memberikan sinyal peluang penghapusan saham HSC. FTSE Russell menyebutkan, jika sebuah perusahaan menjadi subjek peringatan konsentrasi kepemilikan saham dari otoritas bursa, dengan saham konsentrasi kepemilikan tinggi, saham itu akan dikeluarkan dari indeks pada tinjauan berikutnya.

Sementara itu, FTSE mengeluarkan saham DAAZ dari kategori micro karena gagal memenuhi syarat minimal free float atau saham beredar di publik. Sedangkan saham HILL dan MLIA dikeluarkan oleh FTSE karena gagal lolos proses pemantauan yang dilakukan FTSE terhadap kualitas perdagangan dan struktur kepemilikan saham di pasar. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya