Liputan6.com, Mataram: Suasana masih tegang di perbatasan Kampung Peresak dan Kampung Karang Genteng, Desa Pagutan, Kecamatan Ampenan, Mataram, Nusatenggara Barat, menyusul tawuran antara kedua kampung tersebut, Jumat (16/1) sekitar pukul 04.00 WIB. Tawuran yang dipicu keributan antaranak muda ini memakan enam korban. Dua di antaranya dilaporkan tewas serta seorang warga kena luka tembak dan terpaksa menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Mataram.
Pihak kepolisian setempat saat ini telah berhasil mengendalikan situasi panas antarwarga kampung bertetangga yang terlibat bentrokan tersebut. Kini, pasukan Brigade Mobil Polda NTB, dua peleton personel Batalyon 742 Satya Wirayudha, satu kompi unit Sabhara diterjunkan ke lokasi kerusuhan. Polisi juga menggelar razia senjata api dan senjata tajam untuk menekan kemungkinan terjadi kerusuhan susulan. Aparat baru menyita puluhan senjata tajam dan sejumlah bom molotov. Tapi, senjata api yang mengakibatkan kematian dua warga belum ditemukan.
Usai salat Jumat, polisi akan kembali menggelar razia. Sementara, soal jenis senjata api yang menewaskan kedua warga setempat apakah organik atau rakitan, masih sulit ditentukan. Sebab, polisi belum mendapat izin untuk mengotopsi jenazah dari keluarga korban.
Reporter SCTV melaporkan, sedikitnya 250-an penduduk Kampung Peresak, terutama yang tinggal berbatasan dengan Kampung Karang Genteng mengungsi ke tempat aman. Mereka khawatir keributan akan terjadi kembali selepas salat Jumat. Para penduduk yang tidak mengungsi memilih diam di rumah atau berkumpul dengan tetangga.
Sejumlah saksi mata mengungkapkan bahwa keributan dini hari tadi, dipicu perkelahian antarpemuda yang terjadi sebulan silam. Ketika itu, sejumlah pemuda ngebut di kawasan Kampung Peresak. Entah apa penyebabnya, terjadi salah paham antara remaja Kampung Karang Genteng dan Kampung Peresak dan berujung dengan perkelahian.
Kericuhan antarkampung bukanlah yang pertama di Kota Mataram. Pada awal Mei 2002, sedikitnya dua orang harus dirawat di RSU Mataram, menyusul tawuran yang terjadi antara Kampung Karang Tapen dan Karang Lede [baca: Perkelahian Antarkampung di Mataram, Dua Warga Cedera]. Penyebab perkelahian antarkampung bertetangga ini dipicu tabrakan sepeda motor antara seorang warga Sekarbela dan sejumlah warga Karang Tapen.(YYT/Adhar Hakim)
Pihak kepolisian setempat saat ini telah berhasil mengendalikan situasi panas antarwarga kampung bertetangga yang terlibat bentrokan tersebut. Kini, pasukan Brigade Mobil Polda NTB, dua peleton personel Batalyon 742 Satya Wirayudha, satu kompi unit Sabhara diterjunkan ke lokasi kerusuhan. Polisi juga menggelar razia senjata api dan senjata tajam untuk menekan kemungkinan terjadi kerusuhan susulan. Aparat baru menyita puluhan senjata tajam dan sejumlah bom molotov. Tapi, senjata api yang mengakibatkan kematian dua warga belum ditemukan.
Usai salat Jumat, polisi akan kembali menggelar razia. Sementara, soal jenis senjata api yang menewaskan kedua warga setempat apakah organik atau rakitan, masih sulit ditentukan. Sebab, polisi belum mendapat izin untuk mengotopsi jenazah dari keluarga korban.
Reporter SCTV melaporkan, sedikitnya 250-an penduduk Kampung Peresak, terutama yang tinggal berbatasan dengan Kampung Karang Genteng mengungsi ke tempat aman. Mereka khawatir keributan akan terjadi kembali selepas salat Jumat. Para penduduk yang tidak mengungsi memilih diam di rumah atau berkumpul dengan tetangga.
Sejumlah saksi mata mengungkapkan bahwa keributan dini hari tadi, dipicu perkelahian antarpemuda yang terjadi sebulan silam. Ketika itu, sejumlah pemuda ngebut di kawasan Kampung Peresak. Entah apa penyebabnya, terjadi salah paham antara remaja Kampung Karang Genteng dan Kampung Peresak dan berujung dengan perkelahian.
Kericuhan antarkampung bukanlah yang pertama di Kota Mataram. Pada awal Mei 2002, sedikitnya dua orang harus dirawat di RSU Mataram, menyusul tawuran yang terjadi antara Kampung Karang Tapen dan Karang Lede [baca: Perkelahian Antarkampung di Mataram, Dua Warga Cedera]. Penyebab perkelahian antarkampung bertetangga ini dipicu tabrakan sepeda motor antara seorang warga Sekarbela dan sejumlah warga Karang Tapen.(YYT/Adhar Hakim)