Pasar Modal Syariah: Potensi Raksasa tapi Literasi Minim

Meski tumbuh positif, OJK sebut literasi pasar modal syariah RI baru 4% dan inklusi 0,2%. Jadi PR besar sekaligus peluang emas yang belum tergarap maksimal.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 21 Mei 2026, 14:55 WIB
Kepala Direktorat Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon, dan Pasar Modal Syariah OJK, Novita Lyndradevi Bachtiar, dalam pembukaan Syariah Investment Week (SIW) 2026, Kamis (21/5/2026). (Liputan6.com/Gagas)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi pasar modal syariah, meski secara kinerja sektor tersebut terus menunjukkan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Direktorat Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon, dan Pasar Modal Syariah OJK, Novita Lyndradevi Bachtiar, mengatakan bahwa tantangan terbesar pengembangan pasar modal syariah saat ini bukan hanya berasal dari dinamika global, tetapi juga dari sisi domestik.

Salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis syariah.

“Berdasarkan survei nasional literasi dan inklusi keuangan atau SNLIK tahun 2025, tingkat literasi pasar modal syariah masih berada di kisaran 4%, sementara tingkat inklusinya baru sekitar 0,2%,” ujarnya dalam pembukaan Syariah Investment Week (SIW) 2026, Kamis (21/5/2026).

Menurut Novita, angka tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperluas jangkauan edukasi dan meningkatkan partisipasi masyarakat di pasar modal syariah.

“Hal ini menunjukkan bahwa ruang pengembangan dan edukasi kepada masyarakat masih sangatlah besar,” jelasnya.

 

Potensi Jadi Pemain Besar

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ia menambahkan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam industri keuangan syariah global, mengingat didukung populasi muslim terbesar di dunia.

Karena itu, pasar modal syariah ke depan diharapkan tidak lagi dipandang sekadar sebagai alternatif investasi, tetapi mampu berkembang menjadi arus utama investasi nasional.

Novita juga menilai momentum penyelenggaraan Syariah Investment Week 2026 menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan literasi dan inklusi tersebut. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga ruang kolaborasi antara regulator, pelaku pasar, akademisi, media, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem pasar modal syariah nasional.

Ke depan, OJK menegaskan akan terus mendorong inovasi produk dan layanan pasar modal syariah agar semakin relevan dengan kebutuhan investor, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariah, integritas, dan perlindungan investor.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya