Liputan6.com, Islamabad - Pakistan meningkatkan perannya sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Islamabad diketahui menjadi tuan rumah pembicaraan serta memfasilitasi komunikasi diplomatik tidak langsung antara kedua negara yang tengah berselisih.
Pemerintah Pakistan menilai stabilitas kawasan Teluk memiliki kaitan langsung dengan kepentingan ekonomi dan keamanan nasionalnya. Konflik yang meluas antara Washington dan Teheran dikhawatirkan dapat mengganggu jalur perdagangan, memperburuk tekanan energi, hingga memicu ketegangan sektarian di kawasan perbatasan Pakistan-Iran.
Advertisement
Seorang pejabat senior pemerintah Pakistan yang terlibat dalam proses negosiasi mengatakan Islamabad terus berupaya menjaga komunikasi antara kedua pihak, dikutip dari DW News, Senin (18/5/2026).
“Pakistan sedang berusaha sebaik mungkin untuk melibatkan kedua pihak dan memandang meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran dengan keprihatinan yang mendalam,” katanya kepada DW.
“Kami berkomitmen untuk memainkan peran diplomatik yang konstruktif untuk mendukung de-eskalasi segera dan resolusi damai demi kepentingan keamanan regional dan global,” tambahnya.
Namun, peran Pakistan sebagai mediator juga mulai mendapat sorotan. Awal pekan ini, media AS CBS News melaporkan Pakistan disebut mengizinkan Iran memarkir pesawat militernya di pangkalan udara Pakistan untuk menghindari potensi serangan AS.
Pemerintah Pakistan langsung membantah laporan tersebut dan menyebutnya “menyesatkan” serta “spekulatif”. Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan aktivitas pesawat itu berkaitan dengan pengaturan diplomatik dan logistik dalam proses perdamaian yang sedang berlangsung.
Islamabad juga memperingatkan bahwa laporan yang tidak terverifikasi dapat mengganggu proses diplomasi yang sensitif.
Kritik pada Pakistan
Di sisi lain, Senator AS Lindsey Graham secara terbuka mengkritik Pakistan setelah laporan tersebut muncul. Kritik itu mencerminkan kekhawatiran sebagian kalangan di Washington bahwa Pakistan dinilai terlalu dekat dengan Teheran meski masih memiliki hubungan strategis dengan AS.
Sementara itu, China justru mendorong Pakistan untuk memperluas peran mediasi. Menteri Luar Negeri China Wang Yi disebut meminta Islamabad meningkatkan upaya diplomatik demi menjaga stabilitas kawasan, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Meski demikian, sejumlah analis menilai ruang gerak Pakistan tetap terbatas karena keputusan akhir berada di tangan AS dan Iran.
“Hasil pembicaraan tidak pernah dijamin, dan tidak berada di tangan Pakistan,” kata analis keamanan independen Imtiaz Gul.
Menurutnya, keberhasilan diplomasi sangat bergantung pada kesediaan Presiden Donald Trump dan pemerintah Iran untuk mencari titik kompromi.
Tantangan Besar
Analis lain, Fatemeh Aman, menilai Pakistan menghadapi tantangan besar karena harus menjaga hubungan secara bersamaan dengan Iran, AS, dan negara-negara Teluk Arab.
“Perselisihan inti antara Teheran dan Washington — sanksi, keamanan regional, dan isu nuklir — berada di luar pengaruh Pakistan,” ujarnya.
Para pengamat menilai peran realistis Pakistan kemungkinan hanya sebatas menjaga jalur komunikasi tetap terbuka dan mendukung upaya deeskalasi, bukan menjadi penentu utama tercapainya kesepakatan besar antara AS dan Iran.