Riset PR: Kenaikan Harga HP Lebih Ditakutkan daripada Lauk Pauk

Hal ini terlihat dari lebih maraknya perbincangan tentang rupiah yang dikaitkan dengan dampaknya terhadap harga laptop, ponsel, dan mobil.

oleh Ismoko WidjayaDiterbitkan 31 Agustus 2013, 09:30 WIB
Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini menjadi perbincangan hangat. Prapancha Research (PR) pun mencoba memetakan dinamika persepsi masyarakat perihal penurunan nilai rupiah, khususnya di antara pengguna jejaring sosial Twitter.

Hasilnya, dari perbincangan tentang rupiah sebanyak 1,5 juta celoteh selama setahun belakangan (30 Agustus 2012-29 Agustus 2013), 227 ribu atau sekitar 15 persennya berlangsung hanya dalam 9 hari terakhir.

"Perbincangan rupiah saat ini jauh meninggalkan berbagai isu hangat lainnya," ujar analis PR Adi Ahdiat dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (31/8/2013).

Dalam 9 hari terakhir, sambungnya, perbincangan tentang Demokrat yang sedang hangat-hangatnya menjelang konvensi hanya mencapai 123 ribu kicauan, SKK Migas 36 ribu, dan penembakan polisi telah menurun hingga 15 ribu. Menurut Adi, tingginya perbincangan tentang rupiah dibandingkan isu-isu lain dikarenakan dampak penurunan mata uang yang secara langsung mengusik kehidupan sebagian besar warga.

"Semarak apa pun isu konvensi Demokrat, rata-rata dari kita hanya menjadi penonton dan tak merasa berkepentingan. Berbeda dengan kenaikan rupiah yang spontan mengakibatkan harga-harga melonjak," tambah Adi.

Terbukti dari seluruh pembicaraan tentang Rupiah, sebanyak 2 persen atau 5 ribu kicauan dengan eksplisit menyinggung kenaikan harga tahu dan tempe. Salah satunya adalah dari akun Iwan Fals (@iwanfals) yang dikicaukan ulang 410 kali, "Rupiah melemah, eh tempe tahu ikut2an, bukan maiiiin."

Namun pada saat yang sama, tampak juga fakta bahwa kekhawatiran akan kenaikan harga komoditas tersier lebih mengemuka di media sosial. Bahkan kecemasan ini tampak lebih ramai ditampilkan dibanding keresahan akan naiknya harga lauk pauk pokok. Hal ini terlihat dari lebih maraknya perbincangan tentang rupiah yang dikaitkan dengan dampaknya terhadap harga laptop, ponsel, mobil, dan berbagai peranti elektronik.

"Jumlahnya mencapai 7 ribu kicauan, lebih tinggi dari perbincangan tentang dampak pelemahan rupiah ke bahan makanan," ungkap Adi.

Jika diperbandingkan, lanjutnya, fenomena ini tak dijumpai pada jejaring sosial warga India, yang saat ini juga sedang dihadapkan pada kemerosotan nilai mata uangnya, rupee. Dari 137 ribu pembicaraan tentang rupee pada 9 hari terakhir, tak terlalu nampak celoteh-celoteh yang mencemaskan kenaikan harga barang-barang tersier sebagaimana di Indonesia. Kalaupun ada, jumlahnya tak lebih dari puluhan atau terbilang tak signifikan.

"Perbandingan kontras ini memperlihatkan kultur gandrung belanja kelas menengah kita. Bahkan salah satu kicauan yang banyak ditanggapi di jejaring sosial kita adalah ajakan sebuah perusahaan mobil untuk buru-buru membeli produk barunya sebelum harganya benar-benar naik," papar Adi.

Dengan potensinya menggoyang stabilitas, pelemahan mata uang adalah momok menakutkan bagi pemerintahan suatu negara. Dalam sejarahnya, rezim sekuat Orde Baru sekalipun tumbang bermula dari melemahnya mata uang yang tak lama mengakibatkan kepanikan dan huru-hara.

Dengan kondisi di tengah-tengah kebutuhan menekan belanja impor, imbuhnya, menahan laju kenaikan rupiah dengan sendirinya menjadi tantangan yang lebih besar. "Kita harus belajar," tutup Adi. (Mut)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya