Liputan6.com, Jakarta - Salah satu perusahaan pemegang Bitcoin terbesar di dunia, yaitu Strategy yang dipimpin Michael Saylor dikabarkan tengah menyiapkan langkah buyback atau pembelian kembali obligasi konversi untuk pertama kalinya, memicu spekulasi soal kemungkinan penjualan Bitcoin (BTC) dalam waktu dekat.
Melansir Coinmarketcap, Senin (18/5/2026), berdasarkan laporan yang beredar, Strategy berencana membeli kembali obligasi konversi senilai USD 1,5 miliar atau setara Rp 26,4 triliun (asumsi kurs Rp 17.602 per dolar AS) yang jatuh tempo pada 2029 dengan nilai sekitar USD 1,38 miliar. Langkah ini dinilai sebagai upaya perusahaan untuk mengurangi beban utang dan menekan risiko keuangan di masa depan.
Advertisement
Spekulasi itu juga dikaitkan dengan pernyataan terbaru Michael Saylor (Michael Saylor) yang menyebut, “Penjualan Bitcoin dapat dipertimbangkan jika diperlukan untuk mengoptimalkan struktur utang.”
Selama beberapa tahun terakhir, Strategy dikenal agresif mengakumulasi Bitcoin hingga menjadi salah satu pemegang BTC institusional terbesar di dunia. Namun, strategi itu juga membuat perusahaan lebih rentan terhadap volatilitas pasar karena tingginya beban utang.
Analis menilai ada beberapa skenario yang bisa terjadi jika obligasi tersebut tidak dibeli kembali. Jika harga Bitcoin terus naik hingga 2029, pemegang obligasi kemungkinan akan mengonversi obligasi menjadi saham sehingga utang perusahaan berkurang tanpa perlu pembayaran tunai. Namun, hal ini berpotensi mengencerkan kepemilikan pemegang saham lama.
Langkah Buyback
Sebaliknya, jika harga Bitcoin stagnan atau turun tajam, investor kemungkinan meminta pelunasan tunai. Dalam kondisi itu, Strategy bisa dipaksa menggunakan cadangan kasnya atau bahkan menjual sebagian Bitcoin, yang berpotensi menekan pasar.
Karena itu, langkah buyback saat ini dinilai sebagai strategi untuk memanfaatkan momentum pemulihan harga Bitcoin sambil mengurangi ketidakpastian ke depan. Meski begitu, perdebatan muncul: apakah lebih aman bagi Strategy menjual sebagian BTC sekarang secara terukur, atau menunggu dan berisiko terpaksa menjual saat kondisi pasar memburuk nanti.