Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright menuturkan, China akan meningkatkan impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Hal ini karena kedua ekonomi terbesar di dunia ini merupakan mitra dagang alami dalam hal energi. China adalah importir minyak terbesar di dunia dan AS adalah produsen terbesar.
"Ada perdagangan energi alami di sana,” kata Menteri Energi AS kepada Brian Sullivan dari CNBC dalam sebuah wawancara di Port Arthur, Texas.
Advertisement
China sangat bergantung pada Timur Tengah untuk impor minyaknya. Ekspor dari Teluk Persia sebagian besar telah terputus selama beberapa minggu terakhir karena blokade Iran terhadap Selat Hormuz. Beijing memiliki cadangan strategis yang sangat besar yang telah membantunya mengatasi gangguan sejauh ini.
“Saya menduga kita akan melihat pertumbuhan impor minyak mereka dari Amerika Serikat,” kata Wright kepada CNBC.
Ia menuturkan, China dan pembeli Asia lainnya pada akhirnya akan membeli lebih banyak minyak dari Alaska seiring dengan peningkatan produksi di sana oleh pemerintahan Trump.
“Untuk saat ini, Beijing akan mengimpor lebih banyak minyak dari Pantai Teluk AS,” ujar dia.
Presiden Donald Trump mengatakan kepada Fox News sebelumnya China telah setuju untuk membeli lebih banyak minyak dari AS. Sejauh ini China belum mengkonfirmasi apakah ada kesepakatan seperti itu dengan AS.
“Mereka telah setuju bahwa mereka ingin membeli minyak dari Amerika Serikat, mereka akan pergi ke Texas, kita akan mulai mengirim kapal-kapal China ke Texas dan ke Louisiana dan ke Alaska,” kata Trump kepada Fox News.
Presiden AS bertemu dengan Presiden Xi Jinping untuk KTT di China pekan ini.
20% Pasokan Minyak
Wright menuturkan, Hormuz akan menurun signifikansinya karena blokade Iran terhadap jalur laut tersebut.
“Ini adalah kartu yang hanya bisa dimainkan sekali,” kata Menteri Energi tentang gangguan Iran terhadap selat tersebut.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur laut tersebut sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Blokade Iran terhadap Hormuz sebagai tanggapan telah memicu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah dan sangat berdampak pada perekonomian negara-negara Teluk Arab.
"Negara-negara Teluk akan membangun lebih banyak jalur pipa untuk menghindari Selat Hormuz setelah perang,” kata Wright.
Uni Emirat Arab sudah berencana untuk mempercepat pembangunan jalur pipa Barat-Timur baru yang menghindari Selat Hormuz.
“Akan ada jalur lain untuk pengiriman energi keluar dari Teluk Persia,” kata Wright.
“Kita akan melihat penurunan pentingnya Selat Hormuz, tetapi bukan penurunan pentingnya produksi dan pasokan energi negara-negara tersebut.”