Dr. Rino A. Gani, Jadi Ahli Hati Karena Terinspirasi Ayah

Rino bercerita bagaimana ia sangat takjub terhadap sesuatu yang detail seperti virus yang bisa masuk ke tubuh manusia.

oleh Fitri Syarifah diperbarui 24 Jul 2013, 15:00 WIB
.

Dibandingkan jumlah dokternya, pasien yang mengalami penyakit hati lebih banyak di Indonesia. Mungkin ini yang menjadi salah satu  penyebab ahli penyakit dalam ini fokus mendalami penyakit hati bersama peneliti hati lainnya. Seperti yang diutarakan oleh Dr. Rino Alvani Gani, Sp.PD-KGEH, yang merupakan ahli penyakit dalam yang kini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia. Ia mengatakan saat ini dokter hati di Indonesia kurang dari 200 dokter. Tidak sebanding dengan total pasien hepatitis saja yang mencapai lebih dari 50 juta jiwa."Mungkin ini juga yang membuat saya serius ingin menjadi dokter hati. Ya, selain memang saya senang dengan ilmu ini dan ayah saya yang seorang ahli penyakit dalam juga," kata pria kelahiran Watampone Sulawesi Selatan, 17 Juni 1962.Rino bercerita bagaimana ia sangat takjub terhadap sesuatu yang detail seperti virus yang bisa masuk ke tubuh manusia."Ketertarikan saya terhadap penyakit dalam memang sudah saya rasakan sejak kuliah. Tapi saya menyadari bidang ini memang sangat menarik dan menantang karena ada banyak hal yang banyak tidak kita ketahui tentang penyakit ini," ungkap Rino yang ditemui Liputan6.com usai acara peringatan Hari Hepatitis Sedunia bersama Roche di Sudirman, Jakarta, dan ditulis Rabu (24/7/2013). Tapi sebelumnya, Rino menyampaikan, cabang ilmu kedokteran seperti hepatologi usianya masih muda dibandingkan cabang ilmu lain dan baru berkembang sejak tahun 1970an jadi ada banyak hal yang masih perlu diketahui. Untuk itu ia menyontohkan, seperti halnya virus hepatitis B. Menurutnya, virus ini sangat mengaggumkan. "Virus hepatitis B itu misalnya sangat hebat, coba bayangkan benda sekecil itu tanpa memiliki otak tapi bisa masuk ke dalam sel hati. Bagaimana caranya virus itu bisa tepat memilih sel hati dan masuk ke inti sel hati? Bagaimana pula ia tahu kalau itu inti sel hati? Hebatnya, virus itu bisa menyerupai kromosom manusia yang ada ada sel itu. Tapi mengapa bentuknya seperti itu? Ini membuat virus itu sulit dideteksi di sel manusia," ujar Rino.Dengan semangat, Rino kembali menjelaskan bahwa seperti diketahui, virus hepatitis B itu ada di dalam hati berbentuk DNA. Dan supaya bisa keluar dan berproduksi ia berubah menjadi RNA (materi genetik yang digunakan oleh sel agar dpt memproduksi protein diluar inti sel). Dan diluar inti sel, ia berubah lagi menjadi DNA."Saya rasa ini hal yang mengaggumkan. Ketertarikan saya berawal dari situ. Dan akhirnya saya memutuskan untuk berkecimpung di bidang ini. Selain itu, bidang ini juga bukan hanya mengenai knowledge tapi juga butuh skill. Sehingga dalam menjalani bidang ini, kita harus mampu mengerjakan sesuatu seperti endoskopi. Saya suka mengerjakan sesuatu yang detail," jelasnya.Menjadi Ketua Perhimpunan Peneliti Hati IndonesiaMenurut Rino, PPHI (Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia) memiliki peranan penting dalam menekan angka kesakitan akibat penyakit hati seperti hepatitis, kanker hati, maupun perlemakan hati."Di PPHI, selain mengedukasi masyarakat, saya rasa kami juga ikut dalam penentuan kebijaksanaan untuk bidang penanganan hepatitis ini. Misalnya, sejak lama PPHI berusaha agar hepatitis jadi perhatian Departemen Kesehatan. Tapi dulu tidak ada sub direktoratnya, jadi ketika itu kami dan menteri kesehatan sebelumnya membawa masalah hepatitis ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar menjadi resolusi World Health Assembly," ungkap Rino.Dan benarlah, usaha Rino dan tim peneliti hati membuahkan hasil. Saat ini, baik di dunia maupun di Indonesia penyakit hati kini menjadi konsentrasi pemerintah dan setiap tahun diadakan Hari hepatitis Sedunia setiap tanggal 28 Juli." Alhamdulillah, Indonesia dimasukkan menjadi resolusi bebas hepatitis. Ini tidak lepas dari peran PPHI. Kita butuh strategi dan program hepatitis. Selanjutnya, jika tidak ada halangan kita akan mengadakan konferensi Asia Pasifik di  Jakarta," jelasnya.Rencananya Konferesi Asia Pasifik akan berlangsung mengikutsertakan ahli penyakit dalam dari Australia, China, France, Hong-Kong, India, Japan, Korea, Singapore, Amerika dan tentunya Indonesia.BiodataNama lengkap: DR Dr Rino Alvani Gani SpPD, K-GEH, FINASIM Tempat tanggal lahirWatampone Sulawesi Selatan, 17 Juni 1962StatusMenikah dengan Dr Nelani Samsudin, SpMPendidikanFakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1987)Spesialis Penyakit Dalam FKUI (1996)Konsultan Gastroenterologi Hepatologi (2001)OrganisasiKetua Perhimpunan Peneliti Hati IndonesiaKetua Indonesian Hepatology Research CenterPenghargaanModel student, Medical Faculty University of Indonesia, 1985.Young Investigator Award, 11th Asian Pacific Congress of Gastroenterology, 1996.2nd Best Researcher, Medical Faculty University of Indonesia, 1997.Co-author : Young Investigator Award, APASL 2001, Taiwan.(Fit/Abd)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya