Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (11/5/2026) mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran saat ini berada dalam kondisi yang kritis.
"Gencatan senjata saat ini berada pada titik terlemahnya, setelah saya membaca sampah itu," kata Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, seperti dikutip dari laporan Anadolu, merujuk pada respons Iran atas proposal AS untuk mengakhiri perang yang dikirim melalui mediator Pakistan pada Minggu (10/5).
Advertisement
"Gencatan senjata sekarang bergantung pada alat bantu hidup besar-besaran, seperti ketika seorang dokter masuk dan berkata, 'Tuan, orang yang Anda cintai hanya memiliki peluang hidup sekitar satu persen'," tambahnya.
Trump mengkritik Iran karena membutuhkan waktu lama untuk mengirimkan respons yang menurutnya sebenarnya sangat sederhana.
"Mereka mengirimkan dokumen ini kepada kami setelah kami menunggu selama empat hari, padahal seharusnya itu bisa diselesaikan dalam 10 menit,” ujar Trump. "Mereka sempat menjamin tidak akan memiliki senjata nuklir dalam jangka waktu yang sangat lama serta beberapa hal kecil lainnya, tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa menyepakatinya."
"Jadi mereka awalnya setuju dengan kami, lalu kemudian menarik kembali sikap itu."
Ketika ditanya apakah ia masih percaya solusi diplomatik dengan Iran dapat dicapai, Trump menjawab, "Saya pikir itu sangat mungkin."
Trump mengklaim bahwa pejabat Iran telah menyampaikan pesan mengenai apa yang ia sebut sebagai "debu nuklir" setelah serangan AS.
"Iran mengatakan kepada saya dengan sangat jelas … mereka berniat menyerahkan kepada kami apa yang saya sebut sebagai debu nuklir," katanya, merujuk pada material nuklir yang rusak akibat serangan AS tahun lalu.
Ia menegaskan pula bahwa lokasi-lokasi yang diserang dalam perang AS-Israel melawan Iran pada Juni 2025 telah hancur total, sehingga hampir mustahil dilakukan proses pengambilan material dari lokasi tersebut.
"Hanya ada satu atau dua negara di dunia yang bisa mengambilnya (material nuklir Iran)… Lokasinya sangat dalam dan dihantam begitu keras sehingga tidak mungkin ada peralatan yang bisa memindahkannya," ungkap Trump.
Menurutnya, Iran mengatakan bahwa hanya Iran dan China yang bisa mengeluarkannya.
Keluhan Trump soal Kurdi
Dalam kesempatan yang sama, Trump turut menyampaikan kekecewaannya terhadap kelompok Kurdi karena diduga menyimpan senjata kiriman AS yang sebenarnya ditujukan untuk para pengunjuk rasa di Iran. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut kelompok Kurdi mana yang dimaksud.
Dengan mengklaim bahwa rakyat Iran ingin bangkit melawan pemerintah tetapi tidak memiliki senjata, Trump mengatakan, "Kami pikir orang-orang Kurdi akan menyalurkan senjata itu kepada para pengunjuk rasa, tetapi orang-orang Kurdi mengecewakan kami."
AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan dari Teheran terhadap Israel serta sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk. Situasi itu juga disertai dengan penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Namun, pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen. Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.
Pada Minggu, Iran mengirimkan responsnya kepada Pakistan terkait proposal AS untuk mengakhiri perang. Namun, Trump menolaknya dan menyebut respons tersebut sama sekali tidak dapat diterima.