Kontrol Hantavirus, 30 Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius yang Turun Duluan Dilacak

Salah satu penumpang kapal pesiar MV Hondius yang turun duluan dilaporkan sempat hendak naik pesawat KLM sebelum diturunkan karena sakit. Apa karena hantavirus?

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 08 Mei 2026, 07:00 WIB
Kapal pesiar MV Hondius saat berlabuh di perairan sekitar pelabuhan Praia, Tanjung Verde, Rabu 6 Mei 2026. Tiga orang yang terinfeksi hantavirus akhirnya berhasil dievakuasi dari kapal pesiar MV Hondius di Cape Verde, Tanjung Verde. (AP Photo/Misper Apawu)

Liputan6.com, Jakarta - Para pejabat kesehatan melacak keberadaan 30 penumpang kapal pesiar MV Hondius dari setidaknya 12 negara yang turun duluan untuk mengendalikan wabah hantavirus yang menyebabkan tiga kematian. Mereka turun sebelum mengetahui bahwa telah terpapar virus tersebut.

Mengutip People, Jumat (7/5/2026), pada Kamis, 7 Mei 2026, Oceanwide Expeditions, operator kapal pesiar itu, mengonfirmasi lebih dari dua lusin penumpangnya turun dari kapal di St. Helena pada 24 April 2026, sekitar dua minggu setelah kematian pertama terjadi. Otoritas kesehatan global berupaya melacak para penumpang tersebut dan orang lain yang mungkin telah berkontak dengan mereka.

Enam warga Amerika termasuk di antara penumpang yang turun dari kapal. Pemerintahan Trump 'memantau situasi dengan cermat' dan Departemen Luar Negeri memimpin respons terkoordinasi yang mencakup kontak langsung dengan para penumpang, kata CDC dalam siaran pers.

Warga di setidaknya empat negara bagian AS — Georgia, Arizona, California, dan Virginia — saat ini sedang dipantau setelah turun dari MV Hondius, meskipun tidak ada yang menunjukkan gejala. CDC (Pusat Pengendalian Penyakit AS) menyatakan risiko bagi masyarakat setempat tetap 'sangat rendah', dan mendesak semua orang untuk mengikuti arahan dari petugas kesehatan.

Sementara, Kementerian Kesehatan Belanda mengonfirmasi bahwa seorang pramugari dirawat di rumah sakit dan sedang menjalani tes di Belanda karena diduga terinfeksi hantavirus setelah berkontak dengan salah satu penumpang kapal pesiar yang meninggal akibat virus tersebut.

 

Wabah Hantavirus Menyebar ke Penerbangan KLM?

Proses evakuasi terjadi setelah kapal pesiar MV Hondius tertahan selama beberapa hari karena wabah virus langka yang menyebabkan tiga penumpang meninggal dunia. Tampak dalam foto, petugas kesehatan dengan perlengkapan pelindung mengevakuasi pasien dari kapal pesiar MV Hondius ke dalam ambulans di pelabuhan Praia, Tanjung Verde, Rabu 6 Mei 2026. (AP Photo/Misper Apawu)

KLM Royal Dutch Airlines mengatakan seorang wanita Belanda yang meninggal setelah tertular hantavirus sempat berada di penerbangan dari Johannesburg ke Amsterdam. Ia dturunkan dari pesawat sebelum lepas landas karena kondisi kesehatannya saat itu.

Otoritas kesehatan Belanda sedang menghubungi orang-orang di penerbangan tersebut 'sebagai tindakan pencegahan', kata KLM dalam pernyataannya. Jika pramugari tersebut dinyatakan positif, ia bisa menjadi orang pertama yang diketahui terinfeksi dalam wabah tersebut yang bukan penumpang MV Hondius.

Dalam konferensi pers, Maria Van Kerkhove, seorang ahli epidemiologi Amerika Serikat dan penasihat teknis untuk WHO, menegaskan bahwa wabah hantavirus ini kemungkinan besar tidak akan menjadi epidemi. "Ini bukan Covid; ini bukan influenza," katanya. "Ini bukan awal epidemi; ini bukan awal pandemi."

Kronologi Dugaan Penyebaran Wabah Hantavirus di MV Hondius

Menurut rencana, tiga orang tersebut akan diterbangkan ke Belanda untuk mendapatkan perawatan medis lanjutan. Tampak dalam foto, kapal pesiar MV Hondius berlabuh di perairan sekitar pelabuhan Praia, Tanjung Verde, Rabu 6 Mei 2026. (AP Photo/Misper Apawu)

Kapal MV Hondius, yang membawa sekitar 150 penumpang, berangkat dari Argentina pada 1 April 2026 menuju Kepulauan Canary, dengan persinggahan di Antartika, Kepulauan Falkland, Georgia Selatan, Pulau Nightingale, Tristan, St. Helena, Ascension, dan Cape Verde.

Wabah dimulai setelah seorang pria Belanda meninggal pada 11 April 2026. Jenazahnya dipindahkan pada 24 April 2026 di pelabuhan St. Helena. Istrinya, yang saat itu mulai merasa sakit, turun dari kapal. Tiga hari kemudian, perusahaan pelayaran diberitahu bahwa istrinya juga meninggal. Operator pelayaran tidak mengonfirmasi apakah kematian mereka "terkait dengan situasi medis saat ini di atas kapal."

Pada hari yang sama, 27 April 2026, seorang warga negara Inggris jatuh sakit parah dan dievakuasi ke rumah sakit di Afrika Selatan. Penumpang tersebut masih dirawat di ICU di Johannesburg dalam kondisi kritis tetapi stabil. Oceanwide Expeditions mengonfirmasi, "Sebuah varian hantavirus telah diidentifikasi pada pasien ini."

WHO Konfirmasi Penyebaran Hantavirus

Sementara, virus Hanta, patogen mematikan yang umumnya berasal dari hewan pengerat, dikonfirmasi muncul di atas kapal tersebut. Tampak dalam foto, sebuah perahu ambulans mendekati pintu kemudi di sisi kanan kapal pesiar MV Hondius, saat kapal tersebut berhenti di lepas pelabuhan Praia, ibu kota Tanjung Verde, pada Selasa 5 Mei 2026. (Foto oleh AFP)

Tak lama kemudian, pada 2 Mei 2026, seorang warga negara Jerman meninggal di atas kapal tersebut. Perusahaan pelayaran tersebut belum membagikan penyebab kematian orang tersebut. 

Pada 6 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkonfirmasi bahwa wabah tersebut disebabkan oleh strain Andes dari hantavirus, yang berasal dari Amerika Selatan — terutama Argentina dan Chili — dan merupakan satu-satunya strain yang diketahui dapat ditularkan dari manusia ke manusia.

Hantavirus adalah penyakit menular yang biasanya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikus rusa, tikus kapas, tikus padi, dan tikus berkaki putih. Virus ini biasanya ditularkan ke manusia ketika mereka digigit atau bersentuhan dengan urin, kotoran, dan air liur hewan pengerat yang terinfeksi.

Namun, dengan strain Andes, penularan terjadi dari manusia ke manusia setelah kontak dekat dan berkepanjangan selama fase awal penyakit, ketika virus lebih mudah menular, menurut WHO.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya