Melihat Tingginya Potensi Ekonomi Industri Pengolahan Tuna

Industri pengolahan tuna Indonesia punya potensi besar untuk dikembangkan dan menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 06 Mei 2026, 22:20 WIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) siap memfasilitasi unit pengolahan ikan (UPI) yang ingin mendapatkan tarif 0% ekspor tuna-cakalang-tongkol ke Jepang. (Dok. KKP)

Liputan6.com, Jakarta - Industri tuna Indonesia memasuki fase baru transformasi. Dengan nilai ekspor yang melampaui 1 miliar dolar AS pada 2025, sektor ini tidak lagi hanya bertumpu pada volume produksi namun mulai bergerak menuju industri bernilai tambah yang mengedepankan keberlanjutan, inovasi, dan pendekatan berbasis pasar.

Indonesia Tuna Consortium Lead Thilma Komaling menegaskan, pendekatan berbasis nilai menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan terhadap stok ikan. Menurut dia, dengan tekanan terhadap stok yang semakin nyata, perlu beralih ke pendekatan berbasis nilai, di mana setiap ikan dimanfaatkan secara optimal.

"Saat ini, 40-50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi," kata Thilma, Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, kinerja ekspor tuna Indonesia menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sekitar 7,46 persen di sepanjang 2021-2025.

Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama dengan kontribusi masing-masing sebesar 19,59 persen; 16,38 persen; dan 15,58 persen dari total nilai ekspor tuna Indonesia yang mencapai USD 1,038 miliar pada 2025.

Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan Ari Satria mengatakan, capaian ini menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global.

"Dengan nilai ekspor yang telah melampaui 1 miliar dolar AS pada 2025, sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global," katanya.

Produk bernilai tambah seperti tuna olahan dan fillet kini mulai mendominasi ekspor, menandakan pergeseran dari komoditas mentah menuju produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi kunci.

Pemerintah terus memperkuat pengelolaan perikanan melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.

 

Produk Turunan

Diketahui, pada 2024, produksi perikanan di Bali didominasi hasil laut dengan total mencapai lebih dari 127 ribu ton, didominasi komoditas tuna dan cakalang. Tampak dalam foto, pedagang menjual ikan di pasar di pantai Kedonganan dekat Denpasar, Bali, pada Jumat 10 April 2026. (SONNY TUMBELAKA/AFP)

Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Syarif Abd. Raup menegaskan, komitmen Pemerintah dalam menjaga keberlanjutan sekaligus daya saing.

"Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional, guna memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global," ujarnya.

Adapun, pemanfaatan teknologi dan data juga mulai memainkan peran penting dalam transformasi industri tuna.

Selama ini, sekitar 40-50 persen bagian tuna seperti kulit, tulang, dan sisik belum dimanfaatkan secara optimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi.

Produk turunan seperti kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan farmasi dinilai memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk segar atau beku. Bahkan, pasar global kolagen diproyeksikan melampaui USD 9 miliar pada 2030.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya